-->
Motivasi Menulis

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Secara rinci dapat diidentifikasikan sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut:

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa


1. Kognisi
Tinggi – rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang .

2. Pola komunikasi dakam keluarga
Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah atau interaksinya relative demokratis akan mempercepat perkembangan bahasa anggota keluargsnya dibanding yang menerapkan pola komunikasi dan interaksi sebaliknya.

3. Jumlah anak atau anggota keluarga
Sejumlah keluarga yang memiliki banyak anak atau banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi bervariasi dibandingkan keluarga yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota keluarga lain selain keluarga inti.

4. Posisi urutan kelahiran
Perkembangan bahasa anak yang posisi urutan kelahiran di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak tengah memiliki arah komunikasi keatas maupun ke bawah. Adapun anak sulung hanya memiliki arah komunikasi kebawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke arah saja.

5. Kedwibahasaan (bilingualism)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa yang lebih dari satu akan lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasabya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sanda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia, tahap – tahap sebelumnya.

6. Status social ekonomi keluarga
Keluarga yang berstatus social ekonomi baik biasanya juga berpendidikan baik akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak – anak da anggota keluarganya. Demikian pula sebaliknya, keluarga yang berstatus social ekonomi rendah yang biasanya pula berpendidikan “rendah” angsangan untuk dapat ditiru oleh ank – anak dalam berbahasa tidak sebalik dari keluarga yang berstatus social ekonomi tinggi.

7. Kondisi lingkungan
Lingkungan tempat tinggal anak memberikan andil yang cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan diperkotaan akan berbeda dengan lingkungan pedesaan. Demikian juga perkembangan bahasa di daerah pantai, pengunungan, daerah terpencil dan dikelompok social lain.

Setiap anak yang dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa. Akan tetapi sama halnya dengan bidang lain, faktor lingkungan berperan cukup besar dalam mempengaruhi perkembanmgan bahasa anak tersebut. Anak belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yamg mereka dengar, lihat dan mereka hayati dalam hidupnya sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda.

Kemampuan berpikir anak berbeda-beda sedangkan kemampuan berpikir dan bahasa mempunyai korelasi tinggi; anak dengan IQ tinggi akan berkemampuan bahasa yang tinggi. Nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan indivial anak dan dengan demikian kemampuan mereka dalam bahasa juga bervariasi sesuai dengan variasi nilai IQ mereka.

Tahap Perkembangan Bahasa

Tahap Perkembangan Bahasa - Secara umum, perkembangan keterampilan berbahasa pada individu dapat dibagi ke dalam empat komponen, yaitu:

Tahap Perkembangan Bahasa


1. Fonologi (phonology)
2. Semantik (semantics)
3. Tata bahasa (grammar), dan
4. Pragmatic (pracmatics)


Fonologi berkenaan dengan bagaimana individu memahami dan menghasilkan bunyi bahasa. Jika kita pernah mengunjungi daerah lain atau negara lain yang berhasanya tidak kita mengerti boleh jadi kita akan kagum, heran atau bingung karena bahasa orang asli di sana terdengar begitu cepat dan sepertinya tidak putus – putus antara satu kata dengan lain. Sebaliknya, orang asing yang sederhana belajar bahas kita juga sangat mungkin mengalami hambatan karena tidak familiar dengan bunyi – bunyi kata – kata dan pola intonasinya. Bagaimana sseorang memperoleh fasilitas kemampuan  memahami bunyi kata dan intonasi merupakan sejarah perkembangan fonologi.


Semantik merujuk kepada makna kata atau cara yang mendasari konsep – konsep yang diekspresikan dalam kata – kata atau kombinasi kata. Setelah selesai masa pra sekolah, anak – anak memperoleh sejumlah kata – kata baru dalam jumlah yang banyak. Penelitian intensif tentang perkembangan kosakata pada anak – anak diibaratkan oleh Berk (1989) sebagai sejauh mana kekuatan anak untuk memahami ribuan pemetaan kata – kata ke dalam konsep – konsep yang dimiliki sebelumnya meskipun belum terlabelkan dalam dirinya dan kemudian menghubungkannya dengan kesepakatan dalam bahasa masyarakatnya.


Pragmatic merujuk kepada sisi komunikatif dai bahasa. Ini berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkominikasi dengan orang lain. Di dalamnya meliputi bagaimana mengambil kesempatan yang tepat, mencari dan menetapkan topik yang relevan, mengusahakan agar benar – benar komunikatif, bagaimana menggunakan bahasa tubuh, intonasi, suara dan menjaga konteks agar pesan – pesan verbal yang disampaikan dapat dimaknai secara tepat oleh penerimanya. Pragmatik juga mencakup di dalamnya pengetahuan sosioliguistik, yaitu bagaimana suatu bahasa harus di ucapkan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Dilihat dari perkembangan umur kronologis yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam tahap – tahap sebagai berikut:

  • Tahap praliguistik atau meraba (0,3 – 1,0 tahun)

Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi  ujaran dalam bentuk ocehan yang mempunyai fungsi komunikati.


  • Tahap holofrastik atau kalimat satu kata (1,0 – 1,8 tahun )

Pada usia sekitar satu tahun anak mulia mengucapkan kata – kata. Satu kata yang diucapkan oleh anak – anak harus dipandang  sebagai suatu kalimat penuh. Mencakup aspek intelektual maupun emosional sebagai cara untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu.

  • Tahap kalimat dua kata (1,6 – 2,0 tahun )
    Pada tahap ini anak mulai memiliki banyak kemungkinan untuk menyatakan kemauannya dan berkominikasi dengan menggunakan kalimat sederhana yang disebut dengan istilah “ kalimat dua kata “ yang dirangkai secara tepat. Misalnya, anak mengucapkan “ mobil – mobilan siapa?” atau bertanya “ itu mobil – mobilan  milik siapa?”, dan sebagainya.

  • Tahap pengembangan tata bahasa awal (2,0 – 5,0 tahun)

Pada tahap ini anak mulai mengembangkan tata bahasa, panjang kalimat mulai bertambah. Ucapan – ucapan yang dihasilkan semakin kompleks, dan mulai menggunakan kata jamak dalam kematangan perkembangan anak.

  • Tahap pengembangan tata bahasa lanjutan (5,0 – 10,0 tahun)

Pada tahap ini anak semakin mampu mengembangkan struktur tata bahasa yang kompleks lagi serta mampu menggabungkan kalimat – kalimat sederhana dengan komplementasi, relativasi, dan konjungsi.

  • Tahap kompetensi lengkap (11,0 tahun – dewasa )

Pada akhir masa kanak – kank perbendaharaan kata semakin meningkat,  gaya bahasa mengalami  perubahan, dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi. Keterampilan dan performasi tata bahasa terus berkembang kearah tercapainya kompetensi berbahasa secara lengkap sebagai perwujudan dari kompetensi komunikasi.

Pengertian dan Fungsi Pelayanan Bimbingan Kelompok

Pengertian dan Fungsi Pelayanan Bimbingan Kelompok - Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan yang dilaksanakan oleh Guru BK/Konselor kepada siswa dengan  format kelompok. Kelompok dapat terdiri dari 8-12 siswa dengan anggota kelompok yang heterogen. Layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, hubungan sosial, dan lain-lain. Layanan ini akan membahas topi-topik yang akan bermanfaan bagi pengembangan KES siswa. Pelaksanaan pelayanan bimbingan kelompok dapat dilakukan dengan memilih topik baik secara bebas maupun topik tugas. Guru BK/Konselor akan menjadi pemimpin kelompok yang bertugas memandu jalannya pelaksanaan bimbingan kelompo tersebut.

Pengertian dan Fungsi Pelayanan Bimbingan Kelompok


Pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan kelompok dapat dilaksanakan melalui kegiatan Home Room yang berfungsi untuk penyampaian informasi dan pengembangan, psikodrama yang berfungsi untuk keperluan terapi untuk masalah-masalah psikologis, sosiodrama yang berfungsi untuk keperluan terapi bagi masalah-masalah konflik-sosial.

Menurut amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu juga menembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Secara khusus bimbingan kelompok bertujuan untuk:
  • Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan teman-temannya.
  • Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama temanteman dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada umumnya.
  • Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan kelompok.
  • Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan oran lain.
  • Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam hubungannya dengan orang lain.
Fungsi dari layanan bimbingan kelompok diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Memberi kesempatan yang luas untuk berpendapat dan memberikan tanggapan tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
  2. Mempunyai pemahaman yang efektif, objektif, tepat, dan cukup luas tentang berbagai hal tentang apa yang mereka bicarakan. 
  3. Menimbulkan sikap yang positif terhadap keadaan sendiri dan lingku
  4. ngan mereka yang berhubungan dengan hal-hal yang mereka bicarakan dalam kelompok.Menyusun progran-program kegiatan untuk mewujudkan penolakan terhadap sesuatu hal yang buruk dan memberikan dukungan terhadap sesuatu hal yang baik.
  5. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang nyata dan langsung untuk membuahkan hasil sebagaimana apa yang mereka programkan semula.

Layanan Informasi BK

Layanan Informasi BK - Layanan informasi merupakan layanan yang diberikan oleh guru BK/Konselor dalam rangka menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap siswa. Beberapa layanan informasi yang dapat diberikan antara lain: informasi akademis, informasi karir, informasi hal-hal yang berkembang dan up to date untuk dibahas.  Informasi yang diberikan akan menambah WPKNS untuk mendukung pengembangan potensi peserta didik secara optimal.


Layanan Informasi BK


Ada tiga alasan utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan:

  1. Membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahakan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya.
  2. Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya. syarat dasar untuk menentukan arah hidup adalah apabila ia mengetahui apa (informasi) yang harus dilakukan serta bagaimana bertindak secara kreatif dan dinamis berdasarkan atas informasi-informasi yang ada itu. Dengan kata lain, berdasarkan atas inforasi yang diberikan individu diharapkan dapat membuat rencana-rencana dan keputusan masa depannya serta bertanggung jawab atas rencana dan keputusan yang dibuatnya itu.
  3. Setiap individu adalah unik. Keunikan itu akan membawakan pola-pola pengambilan keputusan dan bertindak yang berbeda-beda disesuaikan dengan aspek-aspek kepribadian masing-masing individu.
Aspek Konsep Diri

Aspek Konsep Diri

Aspek Konsep Diri - Hurlock (1993:237) menyebutkan bahwa konsep diri mempunyai
beberapa aspek yang tercakup di dalamnya, yaitu:


  • Aspek fisik, merupakan konsep yang dimiliki oleh individu tentang penampilannya, termasuk didalamnya adalah kesesuaian dengan seksnya. Fungsi tubuhnya yang berhubungan dengan semua perilakunya, serta pengaruh gengsi yang diberikan oleh tubuhnya dimata orang lain yang melihatnya.



  • Aspek Psikologis, yaitu terdiri dari konsep individu yang berkaitan dengan kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan juga hubungannya dengan orang lain. Semua persepsi individu yang berkaitan dengan perilakunya yang disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan cita-cita, harapan, dan keinginan, tipe orang yang diidam-idamkan, dan nilai yang ingin dicapai.


Dari kedua aspek tersebut, yakni aspek fisik dan aspek psikologis, merupakan perpaduan antara dua hal yang saling berpengaruh dalam pembentukan konsep diri seseorang. Aspek psikologis yang merupakan aspek dari dalam berkaitan pula dengan penilaian individu terhadap hasil yang ingin dicapai, dengan mencoba menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut sesuai dengan ideal diri, individu merasa dicintai, dikasihi, orang lain dan mendapat penghargaan dari orang lain. Selain itu pada aspek fisik , juga termasuk di dalamnya adalah sikap dan persepsi individu terhadap tubuhnya, yang meliputi didalamnya penampilan, fungsi, serta semua aspek yang berkaitan dengan potensi fisiknya.
Komponen Konsep Diri

Komponen Konsep Diri

Komponen Konsep Diri - Konsep diri menurut Cooley (dalam Rakhmat, 1994) disebut dengan looking glass self yaitu bagaimana orang lain menilai penampilan kita dalam diri cermin (Rakhmat, 1994:112). Sedangkan menurut Symond (dalam Suryabrata, 1995) bahwa konsep diri sebagai cara bagaimana seseorang bereaksi terhadap dirinya sendiri dan konsep diri ini mengandung pengertian tentang bagaimana orang berfikir tentang dirinya sendiri, bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri (Suryabrata 1995:247).

Dengan demikian ada dua komponen konsep diri, yakni komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut dengan citra diri (self image), sedangkan komponen afektif disebut dengan harga diri (self esteem).

Sependapat dengan yang disampaikan oleh Anita taylor tersebut diatas, menurut Hardy Malcom (dalam Soenardji, 1988) bahwa konsep diri terdiri dari :

  1. Citra Diri (self image) bagian ini merupakan deskripsi yang sangat sederhana, misalnya saya seorang mahasiswa, saya seorang adik, saya berambut panjang, saya bertubuh gendut dan lain sebagainya.
  2. Harga diri (self esteem) dimana bagian ini meliputi suatu penilaian terhadap perkiraan mengenai pantas diri (self woth).

Dari dua pembagian di atas, maka konsep diri mencakup pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kegagalannya dan sebagainya. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Hardy Malcom tersebut diatas, Brooks (dalam Rakhmat,1999) juga mengemukakan bahwa pandangan ini bisa bersifat psikologis, sosial, dan fisik, yaitu gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya.

Konsep ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri, menyangkut berbagai macam hal diantaranya, karakteristik fisik, psikologis, sosial, dan emosional, aspirasi dan prestasi.

Pietrofesa (dalam Mappiera, 1997) menyebutkan tentang dimensi citra diri sebagai berikut :
1. Dimensi pertama, yaitu diri sebagaimana dilihat oleh diri sendiri.
2. Dimensi kedua, yaitu diri dilihat sebagai orang lain.
3. Dimensi ketiga, yaitu mengacu pada tipe-tipe orang yang dikehendaki tentang dirinya.

Dari ketiga dimensi yang tersebut diatas, konsep diri terdiri dari bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri sebagai pribadi, bagaimana seseorang merasakan tentang diri sendiri, dan bagaimana orang tersebut menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana yang diharapkan.

Pengertian konsep diri berdasarkan beberapa definisi tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pandangan, pendapat, dan perasaan individu terhadap dirinya sendiri yang berhubungan dengan cara pandang lingkungan terhadap dirinya baik itu secara fisik maupun psikologis.

Pengertian Pendidikan Inklusi

Selama ini, pendidikan bagi anak berkelainan disediakan dalam tiga macam lembaga pendidikan, yaitu sekolah luar biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan pendidikan terpadu. SLB, sebagai lembaga pendidikan khsusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama, sehingga ada SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunadaksa, SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda. Namun seiring perkembangan pendidikan, kepedulian kepada individu berkebutuhan khusus telah ditunjukkan oleh pemerintah melalui kebijakan Pendidikan Inklusif.

Pendidikan Inklusi

Pendidikan Inklusi Bagi anak


Hal ini dijamin oelh Undang-Undang Dasar 1945 bahwa keberadaan anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya di Indonesia berhak mendapatkan kesamaan hak dalam berbicara, berpendapat, memperoleh pendidikan, kesehjahteraan dan kesehatan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20  Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pada pasal 15 tentang sistem pendidikan khsusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Pendidikan inklusi adalah pendidikan yang menyertakan semua anak secara bersama-sama dalam suatu iklim dan proses pembelajaran dengan layanan pendidikan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa membeda-bedakan anak yang berasal dari latar suku, kondisi sosial, kemampuan ekonomi, politik, keluarga, bahasa, geografis (keterpencilan) tempat tinggal, jenis kelamin, agama, dan perbedaan kondisi fisik atau mental.

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil (Stainback, 1980). Salim Choiri, 2009: 88) pendidikan inklusi didefinisikan sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memilki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan belajar secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

TAHAPAN PENERAPAN PENDIDIKAN INKLUSIF (sumber: slbk-batam.org) 
  1. Sebelum menerapkan inklusi ,sebaiknya sekolah sudah penerapan terlebih dahulu prisip-prisip MBS dengan tiga pilar utama: menagemen sekolah yg tranparan, akuntable dan demokarif; PAKEM dan optimalisasi peran serta masyarakat.
  2. Kepala sekolah,guru,komite, dan orangtua mendapatkan pemahaman apa, bagaimana, mengapa konsep inklusi perlu di terapkan.
  3. Kepala sekolah dan guru (yang nantinya akan menjadi GPK=GURU pembibing Khusus) harus mendapatkan pelatihan bagaimana menjalankan sekolah inklusi.
  4. GPK mendapatkan pelatihan teknis memfasilitasi anak ABK.
  5. Asesmen di sekolah dilakukan untuk mengatahui anak ABK.
  6. Sekolah melakukan motivasi dan penjaringan di masyarakat agar anak ABK yang belum masik sekolah mendapatkan pendidikan secara seimbang dengan memasukannnya ke sekolah inklusi.
  7. Pengadaan aksesiblilitas ( sarana dan prasarana bagi ABK)sesuai kemampuan sekolah.
  8. Menyelenggarakan pembelajaraan inklusi.
  9. Mengadakan Bimbingsn khusus atas kesepahaman dan kesepatandengan orangtua ABK.

Pengertian Konsep Diri

Pengertian Konsep Diri - Konsep diri merupakan elemen terpenting dalam perkembangan dan kepribadian individu pada lingkungan kelurga. Orangtua sebagai bagi teladan anaknya hendaknya memberikan pola asuh dan pola komunikasi yang baik, karena anak merupakan amanat bagi setiap orangtua, baik ayai buruk perkembangan setiap anak sangat tergantung pada baik atau buruknya pembiasaan yang diebrikan kepadanya.

Ilustrasi: Konsep diri


Ketidaksempurnaan perkembangan individu seringkali berdampak besar pada instabilitas konsep diri individu terutama pada masa remaja. Eriksson menjelaskan bahwa masa remaja berkaitan erat dengan perkembangan Sense of identity versus role confusion yaitu kesadran konsep diri yang dihadapkan pada berbagai pertanyaan yang menyankut keberadaan diri, masa depan, peran sosial dalam keluarga, masyarakat, dan kehidupan beragama. Apabila remaja berhasil memahami diri, peran dan makna hidup beragama, maka remaja akan memiliki konsep diri positif. Sebaliknya remaja yang kurang berhasil akan mengalami kebingungan, kurang dapat menyesuikan dengan diri sendiri dan orang lain atau memiliki konsep diri negatif.

Hurlock mengemukakan bahwa konsep diri merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestsi yang dicapai individu. Konsep diri diartikan sebagai semua perasaan, kepercayaan, dan nilai dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.

Calhoun dan Acocella mendefenisikan bahwa konsep diri adalah gambaran mental diri yang terdiri dari pengetahuan diri, pengaharapan diri, dan penilaian diri. Pengetahuan diri merupakan informasi. Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater, 1984), mendefisikan konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks diri keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.

Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.

Pengertian Giftedness

Pengertian Giftedness - Giftedness adalah individu yang memiliki kemampuan unggul dalam bidang akademis secara umum dengan skor IQ yang tinggi pada pengerjaan tes kecerdasan antara 125 sampai 140.  Secara umum individu yang Gifted merujuk pada mereka yang menampilkan karakteristik kemampuan superior. Karakteristik tersebut seperti dapat berbicara lebih dini, dapat membaca lebih awal, dapat mengerjakan pekerjaan sekolah dengan mudah, dan dapat perhatian dari teman-temannya. Individu Gifted belum tentu Genius, sebab gifted belum tentu memberikan kontribusi unik pada lingkungannya dalam kurun waktu tertentu, tetapi orang genius  sudah pasti seorang gifted.

Pengertian Giftedness

Albert Einstein


Tidak hanya sampai pada perjalanan panjangan menemukan definisi giftedness. Kata “Gifted” seringkali disandingkan dengan kata “Talented”. Padahal kedua kata tersebut mengandung maksud yang berbeda. Gagné (1985, 1991) melalui tulisannya yang berjudul Toward a Differentiated Model of Giftedness and Talent menerangkan bahwa, giftedness adalah kompetensi di atas rata-rata dalam kemampuan manusia. Sedangkan talented adalah Performa dalam bidang tertentu.

Kemudian apa bedanya gifted dan genius (jenius)? Genius merujuk pada individu yang telah menampilkan kemampuan tingkat tinggi yang luar biasa pada prestasi bermakna, sedangkan giftedadalah secara umum merujuk pada mereka yang menampilkan tanda-tanda atau indikasi kemampuan superior. Jadi, seorang gifted belum tentu orang yang jenius, sebab gifted belum tentu memberikan kontribusi unik pada lingkungannya dalam kurun tertentu, tetapi orang jenius sudah pasti seorang gifted. Contoh orang jenius bisa diwakili oleh Bapak B.J. Habibie yang banyak memberikan kontribusi yang mengagumkan dalam bidang teknologi penerbangan di Indonesia dan dunia, juga berkontribusi atas perkembangan demokrasi di Indonesia.


Lain halnya dengan gifted disinkroni (Asynchronousgifted) yakni individu gifted yang mengalami disinkronitas (ketidakselarasan) dalam tumbuh kembangnya, di beberapa aspek melebihi atau meninggalkan teman sebayanya tetapi di beberapa hal malah tertinggal. Contoh dari individu dengan gifted disinkroni adalah Albert Einstein yang saat kecil terdiagnosa sebagai anak yang menderita autisme karena keterlambatan berbicara (speech delay) namun ternyata setelah dewasa keluar dari kriteria autisme berkomunikasi lancar, bersosialisasi dengan baik, dan menjadi fisikawan dunia yang terkenal dan berprestasi.




Definisi Orangtua Berkebutuhan Khusus

Definisi Orangtua Berkebutuhan Khusus - Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh, dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat. Sewaktu individu mampu berperan sebagai ayah dan ibu atau orang yang terlibat langsung dan intensif dalam mendidik anak sejak dini, maka disebut dengan orangtua.

Definisi Orangtua Berkebutuhan Khusus


Adapun yang dimaksud dengan orangtua berkebutuhan khusus adalah individu yang mampu menjalankan tanggung jawab sebagai orangtua sekalipun memiliki kesulitan khusus jika dibandingkan dengan kondisi rata-rata individu normal umumnya, baik dari segi fisik, emntal, sosial. Sebagian besar orangtua berkebutuhan khusus telah mengikuti layanan pendiidikan khusus sesuai dengan karakteristiknya atau belajar mengembangkan potensinya secara otodidak, sehingga mampu menjalankan tugasnya sebagai orangtua bagi anak-anaknya. 

Namun, karena adanya keterbatasan yang dimiliki oleh para orangtua, maka orangtua membutuhkan bantuan dari orang lain yang mampu dan mau membantu memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka yaitu pihak sekolah terutama guru. Jadi, anak berkebutuhan khusus bisa hidup mandiri karena hasil kombinasi dari peran orangtua di rumah dan juga guru di sekolah yang memberikan berbagai ilmu pengetahuan serta keterampilan.

Meskipun demikian, bukan berarti bantuan pendidikan yang diberikan dari pihak sekolah kepada anak berkebutuhan khusus menjadi tanggungjawab sepenuhnya bagi para guru, sebab kewajiban sekolah atau guru hanyalah membantu orangtua dalam mendidik anak. Yang memiliki peran penting dalam melaksanakan pendidikan kepada sang anak tetapkah orangtua


Masalah Stres

Masalah Stres - Stres adalah suatu bentuk gangguan emosi yang disebabkan adanya tekanan yang tidak dapat diatasi oleh individu. Di sekolah siswa mungkin mengalami stres saat hubungannya dengan temannya tidak bisa berjalan baik, atau saat mereka menghadapi ujian. Sering terjadi siswa atau mahasiswa ditekan terus-menerus untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam waktu yang semakin sedikit. Stres terjadi jika seseorang dihadapkan pada periswatia yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik dan psikologisnya. Peristiwa-peristiwa tersebut disebut stresor, dan reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres. Stres yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan emosi yang menyakitkan seperti kecemasan dan depresi.

masalh stres


Stres bisa disebabkan oleh beberpa faktor, sperti keinginan yang bertentangan, peristiwa traumatis, peristiwa yang tidak bisa dikendalikan, peristiwa yang tidak bisa diprakirakan, peristiwa di luar batas kemampuan, dan konflik internal sering sebagai sumber stres seseorang. Atkinson, dkk. (1998) menyatakan bahwa sumber stres yang paling jelas adalah peristiwa traumatis, seperti situasi bahaya ekstreem yang berada di luar kemampuan manusia, misalnya; bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir; bencana buatan manusia; seperti perang; dan kecelakaan nuklir; kecelakaan yang mengerikan, seperti tabrakan mobil atau pesawat terbang; penyerangan fisik, seperti pemerkosaan, atau upaya pembunuhan.

Konseli yang mengalami stres ringan dan sedang masih bisa dibantu konselor dengan konseling, tetapi bila stres yang dideritanya kategori berat, maka kosnelor harus merujuk (mereferal) kepada psikiater. Kasus stres berat membutuhkan penanganan medis dan layanan psikoterapi.

Teori Belajar Psikologi Behavioristik

Teori Belajar Psikologi Behavioristik - Teori belajar dari psikologi behavioristik dikembangkan oleh para psikolog behavioristik, mereka sering disebut "Contempory Behaviorists" atau juga disebut "S-R Psychologists". Mereka beranggapan bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran "reward" atau penguatan "re inforcement" dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya. Teori belajar ini masih banyak dipraktekkan di sekolah misal: bila kita melatih anak-anak dalam hitungan 5 x 6 (S) = 30 (R), atau dalam geografi Ibukota Republik Indonesia (R) yaitu Jakarta (R)


Ilustrasi

Contoh-contoh seperti ini dapat kita buat atau dicari di semua tingkatan sekolah samapi ke perguruan Tinggi, Latihan-latihan persiapan ujian berbentuk tanya jawab berdasar teori belajar ini. Belajar secara ini bersifat mekanistis.

Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku mudrid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka masa lalu dan masa sekarang, dan bahw segenap tingkah laku adalah merupakan hasil belajar. Berdasarkan teori ini maka tingkah laku siswa dapat dianalisis dengan mempelajari latar belakang penguatan "reinforcement" terhadap tingkah laku tersebut.

Pengertian Hukum Proximodistal

Pengertian Hukum Proximodistal - Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada di tepi. Hal ini tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat tepi itu lebih vital  daripada misalnya anggota tubuh yang ada di tepi. Hal ini tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki. Anak masih bisa melangsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan-kelainan pada anggota gerak, akan tetapi bila terjadi kelainan sedikit saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.

Perkembangan fisik

Ditinjau dari sudut biologis, sudut anatomis, sudut ilmu faal masih banyak lagi ketentuan yang berhubungan dengan pertumbuhan, struktur dan fungsi, serta kefaalan anggota tubuh. Misalnya dalam hal kematangan, anggota-anggota tubuh akan tumbuh, berkembang, dan berfungsi yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Contohnya terlihat pada kelenjar-kelenjar kelamin, yang baru mulai berfngsi (matang) ketika anak memasuki masa remaja. Pada saat ini terjadi perubahan besar pada bentuk tubuh, yang bahkan juga mempengaruhi perubahan pada kehidupan psikisnya.

Pengertian Konseling

Pengertian Konseling - Shertzer dan stone, setelah menyitir delapan definisi konseling secara kronologis, sampai menemukan beberapa perbedaan sangat jelas di antara definisi-definisi, yang disadur, sebagai berikut:

Pengertian Konseling

  1. Definsi yang mula-mula, awal, memberi penekanan pda hal ikhwal kognitif (melakukan penafsiran fakta-fakta) sedangkan definisi trbaru menekankan pengalaman afektif (memberi makna pribadi bagi tingkah laku) di samping dimensi-dimensi kognitif.
  2. Definisi-definisi awal memperkenalkan konseling sebagai hubungan "empat mata" (Satupersatu) sedangkan definisi mutakhir lazim mengacu pada adanya lebih dari dua konseling.
  3. semua definisi menegaskan bahwa konseling adalah suatu proses. Proses (sejumlah fenomena yang menunjukkan perubahan terus menerus sepanjang waktu) menegaskan bahwa konseling bukanlah suatu kejadian tuggal melainkan melibatkan tindakan-tindakan beruntun dan berlangsung maju-berkelanjutan ke arah suatu tujuan.
  4. Definisi-definisi umumnya menetapkan bahwa konseling adalah suatu saling hubungan dan bahwa hubungan itu ditandai oleh kehangatan, suasana pembolehan (permissiveness), pemahaman, penerimaan, dan sebagainya.
  5. Beberapa definisi melukiskan pula para partisipan: konselor sebagai seorang profesional atau sebagai lebih "dewasa" atau sebagai lebih matang atau memiliki pengetahuan khusus; klien sebagai bermsalah, mengalami kecemasan, merasa terganggu, atau mengalami frustasi.
  6. Sebagian besar definisi menunjukkan bahwa pengaruh, hasil, konseling adalah peningkatan atau perubahan tingkah laku.

Pengertian Intelek dan Inteligensi

Pengertian Intelek dan Inteligensi - Menurut English & English dalam bukunya " A Comprehensive Dictionary of Psychological and Psychoanalitical Terms", istilah intelect berarti antara lain: (1) kekuatan mental di mana manusia dapat berpikir; (2) suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir; (3) kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir;.

Ilustrasi: Inteligensi


Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, istilah intellect berarti:
  1. kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan,
  2. kecakapan mental yang besar, sangat intelligence, dan
  3. pikiran atau intelegensi
Istilah inteligensi telah banyak digunakan, terutama di dalam bidang psikologi dan pendidikan, namun secara definitif istilah itu tidak mudah dirumuskan. Banyak rumusan tentang inteligensi, seperti yang dikemukakan oleh Singgih Gunarsa dalam bukunya Psikologi Remaja (1991), ia mengajukan beberapa rumus inteligensi sebagai berikut:
  1. Inteligensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.
  2. Inteligensi adalah suatu bentuk tingkah laku tertentu yang tampil dalam kelancaran tingkah laku.
  3. Inteligensi meliputi pengalaman-pengalaman dan kemampuan bertambahnya pengertian dan tingkah laku dengan pola-pola baru dan mempergunaannya secara efektif.
Wechler (1958) merumuskan inteligensi sebagai"keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.

Pengertian Tunagrahita

Pengertian Tunagrahita - Istilah tunarungu terbagi atas beberapa pengertian sebagai berikut:

Anak Tunagrahita


  1. Pengertian tunagrahita ditinjau dari segi terminologi tunagrahita berasal dari bahasa kawi, yaitu kata tuna berarti kurang, rusak, rugi, grahita berarti pikir atau kecerdasan, jadi tunagrahita adalah kerusakan pada kemampuan daya pikir.
  2. Pengertian tunagrahita ditinjau dari segi istilah: Istilah untuk pengertian tuna grahita di Indonesia, seperti lemah otak, lemah ingatan, tuna mental, lemah pikiran, cacat mental, dan terbelakang ,mental, namun kebanyakan pendidik memakai istilah terbelakang mental atau tuna grahita. Secara internasional istilahnya seperti mentally handicapped, mentally defected, mentally reterded, amentia, feebleminded dan mental deviciency. Kesemua itu mengandung arti adanya kelambatan dalam proses berpikir, emosi, sikap, dan kesulitan penyesuaian diri pada lingkungan.
  3. Pengertia tunagrahita ditinjau dari segi umum: Anak tuna grahita ialah mereka yang mempunyai tingkat kecerdasan dibawah kecerdasan anak normal sehingga tidak atau kurang memungkinkan untuk mengikuti program pendidikan di sekolah umum. Anak tuna grahita adalah anak yang keadaan dan pertumbuhan mentalnya demikian terbelakang daripada anak normal yang sebaya, atau intelegensinya dibawah rata-rata.

Sumber: Umy Kusyairi, 2012. Konsep diri remaja dengan orangtua berkebutuhan khusus. Makassar: Alauddin University Press

Pertumbuhan Fisik pada Manusia

pertumbuhan fisik pada manusia - Pertumbuhan Fisik adalah adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini meliputi: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri kelamin yang utama (primer) dan ciri kelamin kedua (Sekunder).

Pertumbuhan Fisik pada Manusia

Menurut Muss yang dikutip oleh Sarlito Wirawan, untuk perubahan-perubahan fisik adalah sebagai berikut:

Pada anak perempuan:
  • Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang).
  • Pertumbuhan payudara
  • Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kelamuan.
  • Mencapai pertumbuhan ketnggian badan yang maksimum setiap tahunnya.
  • Bulu kemaluan menjadi keriting.
  • Menstruasi atau haid.
  • Tumbuh bulu-bulu ketiak.
Pada anak laki-laki:
  • Pertumbuhan tulang-tulang.
  • Testis (Buah pelir) membesar.
  • Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap.
  • Awal perubahan suara.
  • Ejakulasi (Keluarnya air mani)
  • Bulu kemaluan menjadi keriting
  • Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya.
  • Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, janggut)
  • Tumbuh bulu ketiak.
  • Akhir perubahan suara.
  • Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
  • Tumbuh bulu di dada.

Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik

Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik - Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang ditempuh. 

Tingkatan kehidupan manusia

Pembagian tugas-tugas perkembangan untuk masing-masing fase dari sejak masa bayi sampai usia lanjut dikemukakan oleh Havighurst sebagai berikut:

- Masa bayi dan anak-anak Belajar berjalan
  • Belajar mekan makanan padat
  • Belajar berbicara
  • Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
  • Mencapai stabilitas fisiologik
  • Membentuk pengertian sederhana tentang realitas fisik dan sosial
  • Belajar kontak perasaan dengan orang tua, keluarga, dan orang lain
  • Belajar mengetahui mana yang benar dan yang salah serta mengembangkan kata hati
- Masa Anak Sekolah
  • Belajar ketangkasan fisik untuk bermain
  • Pembentukan sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai organism yang sedang tumbuh
  • Belajar bergaul yang bersahabat dengan anak-anak sebaya
  • Belajar peranan jenis kelamin
  • Mengembangkan dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan berhitung
  • Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan guna keperluan kehidupan sehari-hari
  • Mengembangkan kata hati moralitas dan skala nilai-nilai
  • Belajar membebaskan ketergantungan diri
  • Mengembangkan sikap sehat terhadap kelompok dan lembga-lembaga
- Masa Remaja
  • Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif
  • Menerima peranan sosial jenis kelamin sebagai pria/wanita
  • Menginginkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab social
  • Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
  • Belajar bergaul dengan kelompok anak-anak wanita dan anak-anak laki-laki
  • Perkembangan skala nilai
  • Secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang lebih adekwat
  • Persiapan mandiri secara ekonomi
  • Pemilihan dan latihan jabatan
  • Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
- Masa Dewasa Awal
  • Mulai bekerja
  • Memilih pasangan hidup
  • Belajar hidup dengan suami/istri
  • Mulai membentuk keluarga
  • Mengasuh anak
  • Mengelola/mengemudikan rumah tangga
  • Menerima/mengambil tanggung jawab warga Negara
  • Menemukan kelompok sosial yang menyenangkan
- Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya
  • Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
  • Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
  • Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia.
  • Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa
  • Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.
Tugas-tugas perkembangan tersebut dikaitkan dengan fungsi belajar, karena pada hakikatnya perkembangan kehdiupan manusia dipandang sebagai upaya mempelajari norma kehidupandan budaya masyarakat agar ia
(mereka) mampu melakukan penyesuaian diri yang baik di dalam kehdiupan nyata.

Faktor Psikis dan Fisik yang mempengaruhi Pendidikan

FAKTOR FISIOLOGIS
            Faktor fisiologis yaitu meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik/jasmani individu       seseorang, dan pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Faktor tersebut meliputi kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik
            Menurut Noehi Nasution, dkk. dalam Syaiful Bahri Djamarah, bahwa, “orang yang dalam keadaan segar jasmaninya berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan”. Anak-anak yang kekurangan gizi; mereka lekas lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima atau memperhatikan pelajaran.


FAKTOR PSIKOLOGIS
            Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Faktor tersebut adalah:
1.      Minat dan Usaha
Menurut Slameto bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
2.      Inteligensi (kecerdasan)
Menurut Wechler dalam Dimyati dan Mudjiono, bahwa inteligensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari.
3.      Bakat
Disamping inteligensi, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang dalam suatu bidang tertentu. Bakat adalah “salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada”.
4.      Motivasi
      Motivasi adalah “daya penggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan juga dari luar”.
Motivasi yang berasal dari dalam diri (intrinsic) yaitu dorongan yang datang dari sanubari, umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu at-au dapat juga karena dorongan bakat apabila ada kesesuaian dengan bidang yang dipelajari. Motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik) yaitu dorongan yang datang dari luar (lingkungan), misalnya dari orang tua, guru teman-teman dan anggota masyarakat.      
Seseorang yang belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pelajaran. Jadi kuat lemahnya motivasi seseorang turut mempengaruhi keberhasilannya.
5.      Konsentrasi Belajar
      Menurut Thursan Hakim, bahwa konsentrasi adalah “merupakan suatu kemampuan untuk memfokuskan pikiran, perasaan, kemauan, dan segenap panca-indra ke satu objek di dalam suatu aktivitas tertentu, dengan disertai usaha untuk tidak memedulikan objek-objek lain yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas itu”.
      Pemusatan perhatian (fokus) tertuju pada objek/isi bahan belajar maupun proses memperolehnya, dan tidak terpengaruh dengan sekelilingnya. Konsentrasi sangat mempengaruhi proses belajar seseorang, apabila konsentrasi menurun tentu menggangu belajarnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rooijakker dalam Dimyati dan Mudjiono, mengatakan bahwa “kekuatan perhatian selama 30 menit telah menurun”. Ia menyarankan agar guru memberikan istirahat selingan selama beberapa menit.
6.      Kematangan dan Kesiapan
      Kematangan merupakan suatu “tingkatan atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana seluruh organ-organ biologisnya sudah siap untuk melakukan kecakapan baru”. Misalnya siap anggota tubuhnya untuk belajar. Dalam konteks proses pembelajaran, kesiapan untuk belajar sangat menentukan aktifitas belajar siswa. Siswa yang belum siap belajar, cenderung akan berprilaku tidak kondusif, sehingga pada gilirannya akan mengganggu proses belajar secara keseluruhan. Seperti siswa yang gelisah, ribut (tidak tenang) sebelum proses belajar dimulai. Jadi kesiapan amat perlu diperhatikan dalam proses belajar mengajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik. Kesiapan juga erat hubungannya dengan minat.
7.      Kelelahan
      Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani (fisik) dan kelelahan rohani (psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan muncul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan ini disebabkan oleh terjadinya kekacauan subtansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Sedangakan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk berbuat sesuatu termasuk belajar menjadi hilang. Kelelahan jenis ini ditandai dengan kepala pusing, sehingga sulit berkonsentrasi, seolah-olah otak kehilangan daya untuk bekerja.
8.      Kejenuhan dalam Belajar
      Menurut Reber yang dikutip oleh Tohirin dalam Muhibbin Syah, bahwa kejenuhan belajar adalah “rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil”. Seseorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar, sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya seakan-akan mandeg (stagnan) tidak mendatangkan hasil.


Pengalaman Pendidikan Berdasarkan Teori Psikologi

PERHAATIAN ! Jika anda membacanya, pasti anda akan mengira saya sombong. Ini cuman Tugas Final mata Kuliahku Psikologi Pendidikan, saya menghubung2kannya dengan teori, tapi kisah dibawah benar-benar nyata.......... Silahkan Membaca

Nama saya Budianto, yang lahir di Maros di sebuah desa kecil, 20 tahun silam. Awalnya saya mengenyam pendidikan dari ayahku sendiri, karena mereka tidak memasukkan saya ke TK seperti anak seusia saya waktu itu yang memulai pendidikannya lewat TK. Tetapi dari situlah, hanya bermodalkan mengajari saya menghitung punya dampak bagi saya sampai sekarang. Awalnya mau dikasih masuk SD tahun1998 di usia 6 tahun, tetapi saya waktu itu tidak mau, dan akhirnya pun dimasukkan setahun kemudian.

Pada masa SD, Alhamdulillah saya kebanyakan mendapatkan peringkat pertama, dengan nilai yang menonjol adalah matematika, di kelas 2 SD saat belajar perkalian, saya lah murid yang pertama cepat tahu, saya pun disuruh ajari teman-teman yang lain. Sempat saya tidak mendapat rengking waktu kelas 3 catur wulan 3,  karena sering sakit-sakitan dan banyak pelajaran yang saya tinggali, termasuk ulangan., yang membuat saya waktu itu tidak mendapatkan peringkat kelas. Jadi pas sampai ke rumah, saya dimarahi dan inilah membuat saya tertekan dalam belajar. Tapi Alhamdulillah sampai kelas 5 mendapat peringkat 1 terus. Tapi itu tidak berlanjut lagi di kelas 6 dimana saya mendapatkan peringkat ke-3, awalnya kembali takut, namun lama-lama perasaan takut itu pun hilang.

 Ke jenjang ke-2 yaitu SMP saya melanjutkannya di Makassar tepatnya di SMPN 34 Makassar karena kebetulan juga, ada nenek juga yang menetap di sekitaran sekolah menengah pertama itu. Awalnya ingin di sekolahkan di Maros, tapi melihat perkembangan teman-teman saya yang pada nakal-nakal, jadi akhirnya disekolahkan di Makassar. Di awal hingga akhir sekolah , saya sangat menikmati karena dengan sekolah baru, daerah baru, saya bisa memiliki banyak teman. Di SMP juga, nilai matematikaku selalu yang menonjol dari nilai-nilai lainnya, sempat suatu ketika, waktu ulangan akhir, saya satu-satunya yang lolos. Sempat juga gara-gara matematika, sebuah bimbel menunjuk saya mewakili sekolah ke olimpiade matematika, tapi karena tidak ada izin dari sekolah , perwakilan sekolah pun tidak ada di olimpiade tingkat smp waktu itu.

Ke tingkat Sekolah menegah Atas, saya sekolah di dekat rumah nenek juga, yaitu di SMA Negeri 18 Makassar, disini kebanyakan yang saya temui adalah teman-teman dari SMP dan ada juga teman dari SD yang sekolah disini. Masa SMA, disini saya lebih banyak mendapatkan guru-guru yang sensitif. Pernah suatu ketika kelas 2 SMA, pada saat belajar, tidak sengaja juga ketawa keras bersama temanku, jadi akhirnya waktu itu di kasih keluar dan tidak boleh mengikuti pelajarannya hingga selesai. Sempat panik juga dibuatnya, karena  saya pikir bisa-bisa tidak bisa naik kelas kalau begini. Jadi akhirnya saya sempatkan minta maaf dengan beliau, dan Alhamdulillah dimaafkan tapi waktu itu disuruh buat surat pernyataan. Naik di kelas 3, lagi-lagi mendapatkan hal yang kurang baik, saat seluruh teman kelasku dihukum memutari lapangan gara-gara ada salah satu teman yang tidak mengumpulkan tugasnya. Padahal guru yang menghukum kami semua ini adalah guru yang membiayai semua keperluan sekolahku kelas dua dan kelas tiga seperti Pembayaran uang komite, beli buku dan koperasi, dan sampai baju pun beliau yang belikan, guru-guru yang lain pun menyebutnya saya ini anak angkatnya. Saya sangat berterimah kasih kepada beliau, karena memang saya berada dalam kesulitan ekonomi. Di masa SMA juga, Nilai Matematika Alhamdulillah lagi-lagi yang menonjol, akibatnya saya sering ditunjuk untuk mewakili sekolah ke ajang lomba mata pelajaran Matematika, termasuk ikut Olimpiade Matematika, tapi gagal, karena kami perwakilan sekolah terlambat datang di lokasi acara.
Untuk memasuki ke jenjang yang lebih tinggi lagi saya perlu berusaha keras, karena gara-gara kesulitan ekonomi keluarga saya. Jadi waktu itu, karena  sukanya mencari tahu informasi lewat internet, Alhamdulillah dapat juga informasi beasiswa ke jenjang S1, dan beasiswa yang ingin saya dapat ini adalah beasiswa Bidik Misi. Untuk mendapatkan beasiswa ini perlu usaha keras, karena sekolah waktu itu kurang informasi juga, jadinya saya yang harus bergerak memberitahu kepala sekolah, guru, dan Alhamdulillah di respon. Suatu ketika menjelang batas terakhir pendaftaran SNMPTN Jalur undangan, ternyata  akreditasi sekolah saya berakhir. Dan akreditasi inilah jadi syarat mendaftar SNMPTN Undangan dan Bidik Misi. Informasinya saya dapat lewat internet, dan tidak ada nama SMA 18 Makassar di daftar akreditasi itu. Jadi saya sempat bertanyaa ke guruku, serta kepala sekolah, yang awalnya bilang akreditasinya ada. Tapi mereka pun akhirnya sadar, setelah saya jelaskan semua. Dan sekolah pun bergerak mengurus semua, dan akhirnya pas hari terakhir Alhamdulillah keluar dengan nilai B+. guru-guruku semua akhirnya bergerak semua mendaftarkan siswa-siswa yang berprestasi peringkat 1-10. Dan Alhamdulillah waktu itu saya peringkat dua. Saya sempat bingung memilih jurusan, tapi akhirnya saya memilih favoritku Matematika UNM, TIK UNM, dan KesMas Unhas. waktu itu juga sempat guru saya yang mendaftarkan kami ke databes kemendiknas, lupa memasukkan saya ke data calon penerima bidik Misi, tapi akhirnya terdaftar juga karena saya yang mengingatkan.

Singkat cerita, saat pengumuman tiba, ternyata saya tidak lulus. Sempat kecewa, terus saya berpikir , masih ada jalan. SNMPTN Tulis. Di SNMPTN Tulis mencoba mengambil matematika UNM kembali sesuai apa yang saya inginkan, terus pilihan kedua saya bingung, tapi akhirnya saya mencoba mengambil pend. Biologi UIN. Di jalur ini, saya tidak mengambil jalur bidik misi karena kecerobohan saya yang mengambil 2 universitas, padahal aturan bidik misi hanya satu universitas. Tapi tidak apa-apa intinya berdoa saja. Terus saya lalui ujiannya, dan saat pengumuman tiba, Alhamdulillah Lulus di jalur ini. Tetapi yang membuat saya tidak terlalu senang adalah jurusan yang saya lulusi itu tidak sesuai dengan minat saya, yang menyukai perhitungan, terus ke dua biaya kuliah. Jadi pas malam pengumuman itu jadi gelisah apalagi orangtua tidak sanggup untuk membiayai saya, apalagi jarak rumah ke kampus UIN alauddin yang sangat jauh, besoknya saya cek kepastiannya di warnet buka situs UIN Alauddin, dan Alhamdulillah rejeki memang tidak kemana. Nama saya tertera Bidik Misi, kaget juga karena sempat tidak daftar ulang di SNMPTN Tulis, tapi itu mungkin pengaruh di jalur snmptn undangan. Saya pun akhirnya kuliah di jurusan yang sebenarnya saya tidak suka, karena banyak penghafalannya terus otakku hanya mampu menganalisa soal logika. Tetapi dalam benak saya, “ini sudah rejekimu lulus disini, jadi jalani saja”. Dan lama kelamaan saya pun mulai beradaptasi dengan materi-materi Biologi.
Dari kisah saya diatas, teori psikologi pendidikan yang cocok adalah teori Multiple Intellegences. Yang dikemukakan oleh Howard Gardner tahun 1999, yang telah mengedentifikasi kecerdasan seseorang yang terbagi menjadi 10 kecerdasan, salah satunya kecerdasan logika-matematika. Kecerdasan ini yang ada pada diri saya, Sejak saya kecil saya sudah diajari menghitung, dari SD hingga SMA juga saya memiliki nilai yang bagus pada mata pelajaran matematika, karena otak saya cepat sekali memahami/menangkap materi yang berbau hitungan(angka-angka). Tetapi pada akhirnya, karena taqdir atau rejeki dari Tuhan, saya tidak kuliah di jurusan yang saya inginkan, tapi saya juga percaya bahwa itu semua pasti ada hikmahnya. 
Adapun ayat yang sesuai dengan Kecerdasan Logika-matematika ini yaitu pada surah Al-Ankabut ayat 43 yang berbunyi:
Artinya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami (Allah) buatkan untuk manusia; dan tidak dapat memahaminya kecuali orang yang berilmu.”
          Ayat diatas bermakna bahwa, kita disuruh berpikir secara logis, menyimpulkan  apa yang telah menjadi perumpamaan yang telah diberikan Allah, tentang bergantinya siang dan  malam,  terjadinya langit dan bumi, dan lain-lain. 


Back To Top