-->
Motivasi Menulis
Sifat dan Tugas Rasul

Sifat dan Tugas Rasul

Sifat dan Tugas Rasul - Sebagai utusan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umat, rasul memiliki sifat-sifat mulia dan agung. Sifat utama yang dimiliki itu adalah sidik, amanah, tablig dan fa¯anah.

Sidik artinya benar atau jujur. Artinya setiap rasul mempunyai sifat jujur dalam menyatakan suatu yang benar atau salah. Kejujuran itu dilakukan semata-mata karena ketaatannya kepada Allah Swt dan kecintaannya kepada umat manusia ungkapan yang dikatakannya tidak ada yang dusta atau mengandung hal-hal yang akan mencelakakan manusia. Kejujuran inilah yang menyebabkan rasul dapat dipercaya umatnya. Amanah maksudnya ialah kepercayaan yang dilimpahkan Allah Swt kepada rasul untuk menjadi penuntun manusia. Tak ada seseorang rasul pun yang berkhianat karena sifat khianat bertentangan dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulai dan utama.

Tablig berarti menyampaikan. Maksudnya rasul itu menyampaikan segala sesuatu yang diperintahkan Allah Swt untuk disampaikan kepada umat. Tidak ada satu pun yang disimpan atau disembunyikan (kitman), meskipun hal yang disampaikan itu pahit didengar orang. Fa¯anah artinya bijaksana. Seorang rasul harus memiliki sifat Fa¯anah sehingga ia akan mampu melaksanakan tugas dengan baik dan menyelesaikan setiap persoalan dengan baik pula.

Sebagai utusan dari Allah Swt, rasul-rasul itu mempunyai tugas-tugas khusus. Yaitu :
1) Mentauhidkan Allah Swt., sebagai Tuhan bagi seluruh makhluk yang ada di atas dunia. Rasul memiliki tugas untuk menjelaskan kebesaran Allah Swt di dalam berbagai aspeknya, termasuk mengenai ketinggian kadar- Nya, kekuasaan-Nya, kemuliaan-Nya, dan iradah-Nya. Rasul bertugas untuk menegaskan tentang kepercayaan manusia yang benar yaitu hanya mengabdi pada Tuhan (tauhid). Allah Swt berfirman :

Terjemah
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (Qs. Al-Anbiya : 25)

2) Memberikan kabar baik (basyir) dan ancaman (in©ar) kepada masingmasing umatnya. Kabar baik dan ancaman tersebut, ditujukan untuk mengajak manusia supaya memiliki moral yang baik, akhlak mulia, dan hidup beradab. Firman Allah Swt :
Terjemah
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaransebagai pembawa berita gembira  dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan”. (Qs. Al-F±¯ir : 24).

3) Menerjemahkan pesan-pesan Allah sehingga ajaran itu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Firman Allah Swt : 
Terjemah
“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Qs. Al-Anbiya : 107)

Pesan-pesan itu kemudian dirumuskan dalam bentuk aturan-aturan  kehidupan manusia untuk dijadikan sebagai pedoman hidup dalam memelihara manusia dari hal-hal yang merugikan diri sendiri. Aturanaturan itu merupakan hukum dari Allah yang harus ditaati baik yang terkait dengan aturan pergaulan dengan sesama manusia (muamalah), perkawinan (munakahat), pidana (jinayah) maupun aturan lainnya.

4) Menjelaskan cara-cara kepada manusia untuk memuliakan dan membesarkan Allah Swt dalam bentuk kegiatan ibadah dan menjauhi larangan Allah serta perbuatan jahat. Rasul juga menjelaskan tentang pahala dan dosa.
Terjemah
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqarah : 133)
Jumlah Nabi dan Rasul

Jumlah Nabi dan Rasul

Jumlah Nabi dan Rasul - Allah Swt dan Rasul-Nya mewajibkan kaum Mukmin untuk beriman para Nabi dan Rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad Saw. Namun, berapa jumlah persis mereka hanya Allah Swt yang mengetahui. Ada Nabi dan Rasul yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an, dan ada pula yang tidak dikisahkan. Allah Swt berfirman, yang artinya:

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu, rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” [QS Al-Mukmin (40): 78]

Kewajiban seorang Muslim adalah mengimani (tanpa keraguan sedikitpun) terhadap Nabi dan Rasul yang nama dan kisahnya disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis mutawatir. Al-Qur’an telah menyebut nama 25 Nabi dan Rasul, serta kisah-kisah mereka. Nama nama Nabi dan Rasul itu serta kisah-kisahnya wajib diimani dan dibenarkan.

Nama-nama Nabi dan Rasul yang disebutkan di dalam Al Quran adalah: Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Yunus, Yusuf, Lu , Saleh, Hud, Dawud, Sulaiman, Ayyub, Musa, Harun, Syu’aib, Zulkifli, Ilyas, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad Saw. Di antara para Rasul tersebut ada yang termasuk dalam Ulul Azmi, yakni Nuh As, Ibrahim As, Musa As, Isa As, dan Muhammad Saw. Lima Nabi ini termasuk dalam Ulul Azmi karena keteguhan dan kesabaran hati mereka yang luar biasa.

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) - Tiap organisasi, termasuk perusahaan, menetapkan tujuan-tujuan tertentu yang ingin mereka capai dalam memanajemini setiap sumber dayanya termasuk sumber daya manusia. Tujuan MSDM secara tepat sangatlah sulit untuk di rumuskan karena sifatnya bervariasi dan tergantung pada penahapan perkembangan yang terjadi pada masing-masing organisasi.

Tujuan Manajemen Sumber Daya

 Menurut Cushway (dalam Irianto,2011), tujuan MSDM meliputi  :
  1. Memberi pertimbangan manajemen dalam membuat kebijakan SDM untuk memastikan bahwa organisasi memiliki pekerja yang bermotivasi dan berkinerja yang tinggi, memiliki pekerja yang selalu siap mengatasi perubahan dan memenuhi kewajiban pekerjaan secara legal;
  2. Mengimplementasikan dan menjaga semua kebijakan dan prosedur yang memungkinkan organisasi mampu mencapai tujuannya.
  3. Membantu dalam pengembangan arah keseluruhan organisasi dan strategi, khususnya yang berkaitan dengan implementasi SDM.
  4. Memberi dukungan dan kondisi yang akan membantu manajer lini mencapai tujuannya.
  5. Menangani berbagai krisis dan situasi sulit dalam hubungan antar pekerja untuk meyakinkan bahwa mereka tidak menghambat organisasi dalam mencapai tujuannya.
  6. Menyediakan media komunikasi antar pekerja dan manajemen organisasi.
  7. Bertindak sebagai pemelihara standar organisasional dan nilai dalam manajemen SDM.

Sementara itu, menurut Schuler et al.(dalam Irianto,2001), setidaknya MSDM memiliki tiga tujuan utama, yaitu :
  1. Memperbaiki tingkat produktivitas.
  2. Memperbaiki kualitas kehidupan kerja.
  3. Meyakinkan organisasi telah memenuhi aspek-aspek legal.

Perusahaan atau organisasi dalam bidang sumber daya manusia tentunya menginginkan agar setiap saat memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dalam arti memenuhi persyaratan kompetensi untuk didayagunakan dalam usaha merealisasi visi dan mencapai tujuan-tujuan jangka pendek, sumber daya manusia seperti itu hanya akan diperoleh dari karyawan atau organisasi yang memenuhi ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikit:
  1. Memiliki pengetahuan penuh tentang tugas, tanggung jawab dan wewenangnya.
  2. Memiliki pengetahuan yang diperlukan, terkait dengan pelaksanaan tugasnya secara penuh.
  3. Mampu melaksanakan tugas-tugas yang harus dilakukan karena mempunyai keahlian/keterampilan yang diperlukan.
  4. Bersikap produktif,inovatif/kreatif, mau bekerja sama dengan orang lain, dapat dipercaya, loyal dan sebagainya. (Ruky,2003).

Guna mencapai tujuan manajemen sumber daya manusia harus dikembangkan dan dipelihara agar semua fungsi organisasi dapat berjalan dengan seimbang.Kegiatan sumber daya manusia merupakan bagian proses manjemen sumber daya manusia yang paling sentral, dan merupakan suatu rangkaian dalan mencapai tujuan organisasi. Kegiatan tersebut akan berjalan dengan lancar, apabila memanfaatkan fungsi-fungsi manajemen. Fungsi manajemen sumber daya manusia dimaksud adalah sebagai berikut:

Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan memperkirakan tentang keadaan tenaga kerja, agar sesuai dengan kebutuhan organisassi secara efektif dan efisien, dalam membantu terwujudnya tujuan.

Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengatur pegawai dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi dan koordinasi,dalam bentuk bagan organisasi.

Pengarahan dan Pengadaan
Pengarahan adalah kegiatan memberi petunjuk kepada pegawai agar mau kerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya tujuan organisasi. Adapun pengadaan adalah proses penarikan,seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Pengendalian
Pengendalian merupakan kegiatan mengendalikan pegawai agar menaati peraturan organisasi dan bekerja sesuai rencana.

Pengembangan
Pengembangan merupakan proses peningkatan keterampilan teknik, teoritis, konseptual. Dan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan.

Kompensasi
Kompensasi merupakan pemberian balas jasa langsung berupa uang atau barang kepada pegawai sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada organisasi.

Pengintegrasian
Pengintegrasian merupakan kegiatan untuk mempersatukan kepentingan organisasi dan kebutuhan pegawai, agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling menguntungkan.

Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan kegiatan pemeliharaan atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas, agar mereka mau bekerja sama sampai pensiun.

Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan salah satu fungsi manajemen sumber daya manusia yang paling penting dan merupakan kunci terwujudnya tujuan organisasi, karena tanpa adanya kedisiplinan, maka sulit mewujudkan tujuan yang maksimal.

Pemberhentian
Pemberhentian merupakan putusnya hungan kerja seorang pegawai dari suatu organisasi

Pentingnya Manajemen Sumber Daya Manusia

Pentingnya Manajemen Sumber Daya Manusia  - Manajemen Sumber Daya Manusia adalah Pendekatan terhadap manajemen manusia.Pendekatan terhadap manajemen manusia tersebut didasarkan pada nilai manusia dalam hubungannya dengan organisasi. Manusia merupakan sumber daya yang paling penting dalam organisasi, di samping itu efektivitas organisasi sangat ditentukan oleh manajemen manusia. Seperti dikatakan oleh Amstrong pendekatan terhadap manajemen manusia tersebut di dasarkan pada empat prinsip dasar.

Pentingnya Manajemen Sumber Daya Manusia

Pertama  sumber daya manusia adalah harta yang paling penting yang dimiliki organisasi, sedangkan manajemen yang efektif adalah kunci bagi keberhasilan organisasi tersebut. Kedua keberhasilan ini sangat mungkin dicapai jika peraturan atau kebijaksanaan atau prosedur yang bertalian dengan manusia dari perusahaan tersebut saling berhubungan, memberikan sumbangan terhadap pencapaian tujuan perusahaan serta perencanaan strategis.

Ketiga, Kultur dan nilai perusahaan, suasana organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil pencapaian yang terbaik. Karena itu kultur ini harus di tegakkan, yang berarti bahwa nilai organisasi mungkin perlu diubah atau ditegakkan, dan diupayakan secara terus menerus mulai dari puncak hendaknya kultur tersebut hendaknya dapat diterima atau dipatuhi. Keempat, Manajemen manusia berhubungan dengan integrasi : menjadikan semua anggota organisasi tersebut terlibat dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Aktivitas MSDM berawal sejak sebelum Perang Dunia Pertama sekitar tahun 1915. Semenjak Perang Dunia Pertama tersebut, militer Amerika serikat sedang mengembangkan suatu korps pengujian psikologi, suatu orang yang telah terlatih dalam peraktek-peraktek di ketiga tim tersebut kemudian menjadi manajer-manajer personalia di bidang industri. Telah diperolehnya selama perang dunia pada berbagai bidang perindustrian tersebut.

Di Amerika Serikat sendiri, pada mulanya SDM ini belum memperoleh perhatian tetapi perkembangan terakhir memperlihatkan banyak organisasi publik dana swasta yang memandang bahwa sumber daya manusia memberi kontribusi yang sangat berarti terhadap upaya pencapaian tujuan dan misi organisasi.

Memasuki abad 21, nampaknya cara pandang ini akan menjadi cara pandang usahawan Amerika. Amerika sangat berkepentingan terhadap perkembangan ekonomi global, pembentukan pasar tunggal Eropa dan menghadapi pesaing dari kawasan Asia. Oleh karena itu, berbagai organisasi perusahaannya membutuhkan karnyawan yang berpikiran kritis,dapat menyusun perencanaan strategis,dan memiliki kemampuan untuk berdaptasi terhadap berbagai perubahan.

Berbagai studi mengungkapkan bahwa MSDM dapat di pandang sebagai faktor pendorong peningkatan produktivitas dan mutu pelayanan.Oleh karena itu, unit organisasi yang mengangani MSDM harus tidak kalah menariknya dalam hal sistem pengajian maupun promosi jabatan. Pelaksanaan MSDM yang baik diyakini dapat meningkatkan efektivitas organisasi serta memberi keuntungan walaupun dalam suasana dalam penuh persaingan (Bernandin & Russel,1993).

Perkembangan MSDM didorong oleh kemajuan peradaban, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan tuntutan daya saing produksi barang dan jasa yang dihasilkan. MSDM sudah ada sejak adanya kerja sama dan pembagian kerja di antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan tertentu. MSDM ini pada mulanya terpadu dalam manajemen atau belum menjadi ilmu yang berdiri sendiri.
Para ahli pada abad ke-20 mengembangkan MSDM menjadi suatu bidang studi yang khusus mempelajari peranan dan hubungan manusia dalam mencapai tujuan organisasi. Perkembangan MSDM didorong oleh masalah-masalah ekonomi, politis, dan sosial.

Masalah-masalah  ekonomis meliputi hal-hal berikut:
  1. Semakin terbatasnya faktor-faktor produksi menuntut agar sumber daya manusia dapat bekerja lebih efektif dan efisien.
  2. Semakin disadari bahwa sumber daya manusia paling berperan dalam mewujudkan tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
  3. Karyawan akan meningkatkan moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerjanya jika kepuasan diperolehnya dari pekerjaannya.
  4. Terjadinya persaingan yang tajam untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas diantara perusahaan.
  5. Para karyawan semakin menuntut keamanan ekonominya pada masa depan.

Masalah-masalah politis meliputi  hal-hal berikut:
  1. Hak asasi manusia semakin mendapat perhatian dan kerja paksa tidak diperkenankan lagi.
  2. Organisasi buruh semakin banyak dan semakin kuat mengharuskan perhatian yang lebih baik terhadap sumber daya manusia.
  3. Campur tangan pemerintah dalam mengatur perburuhan semakin banyak.
  4. Adanya persamaan hak dan keadilan dalam memperoleh kesempatan kerja.
  5. Emansipasi wanita yang menuntut kesamaan hak dalam memperoleh pekerjaan.

Masalah-masalah sosial meliputi hal-hal berikut:
  1. Timbulnya pergeseran nilai didalam masyarakat akibat pendidikan dan kemajuan teknologi. Misalnya : anggapan anak akan memberikan jaminan hidup di masa tua berubah menjadi uang pensiun yang akan menjamin masa tuanya.
  2. Berkurangnya rasa kebanggaan terhadap hasil pekerjaan, akibat adanya spesialisasi pekerjaan yang mendetail.
  3. Semakin banyak pekerja wanita yang karena kodratnya perlu mendapat pengaturan dengan perundang-perundangan.
  4. Kebutuhan manusia yang semakin beraneka ragam, material dan nonmaterial yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Misalnya, masalah status sosial dan kesehatan.
Manajemen Sumber Daya Manusia ini akan terus berkembang sesuai dengan kemajuan peradaban, teknologi, dan perundang-undangan negara-negara di dunia. Persaingan yang ketat di antara perusahaan dan semakin besarnya perhatian tentang hak asasi manusia akan mendorong timbulnya pendekatan-pendekatan yang lebih modern dan manusiawi dalam perburuhan. Pemerintah pun akan semakin besar campur tangannya dalam mengatur pemanfaatan sumber daya manusia untuk melindungi kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan agar tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh pemilik perusahaan.

Kegiatan Pendidikan

Kegiatan Pendidikan - Kegiatan pendidikan pada umumnya diselenggarakan dalam tiga lingkungan, yaitu lingkungan informal, formal, dan non-formal. Informal berarti pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan keluarga atau juga sering disebut sebagai pendidikan primer. Sedangkan pendidikan formal merupakan pendidikan sekunder dalam lembaga-lembaga pendidikan formal. Sementara non-formal merupakan pendidikan tertier di luar informal dan formal.

Kegiatan Pendidikan Berupa Pramuka


Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah pendidikan dalam keluarga yang berlangsung sejak anak dilahirkan. Dalam keluarga yang memahami arti penting pendidikan keluarga, maka ia akan secara sadar mendidik anakanaknya agar terbentuk kepribadian yang baik. Sedangkan dalam keluarga yang kurang mengerti arti penting pendidikan keluarga, maka perilakunya sehari-hari secara tidak sadar adalah pendidikan buat anak. Berkaitan dengan itu, dapat diidentifikasi ciri-ciri umum pendidikan informal sebagai berikut.
a) Pendidikan berlangsung terus-menerus tanpa mengenal tempat dan waktu.
b) Guru adalah orang tua.
c) Tidak adanya manajemen yang jelas.

Di dalam lingkungan informal, seseorang secara sadar atau tidak, disengaja atau tidak, direncanakan atau tidak, memperoleh sejumlah pengalaman yang berharga, sejak lahir hingga akhir hayatnya. Lembaga keluarga merupakan lembaga terkecil yang pertama kali dialami oleh seorang individu, yang dapat mengajarkan berbagai peran dan nilai-nilai sosial. Dalam proses sosialisasi, keluarga memiliki peranan penting, terutama dalam memperkenalkan tentang hal hal-berikut ini.

a) Penguasaan Diri
Masyarakat menuntut adanya penguasaan dan penyelarasan diri dengan segala norma dan aturan yang ada terhadap anggotaanggotanya. Peranan orang tua dalam melatih anak-anaknya untuk menguasai diri dapat dilakukan dengan pelatihan bagaimana cara memelihara dan menjaga kebersihan dirinya. Penguasaan diri ini berkembang, dari yang bersifat fisik sampai emosional. Anak harus belajar menahan kemarahannya terhadap orang tua atau saudarasaudaranya. Penguasaan diri sangat penting artinya bagi kestabilan kejiwaan anak dalam pergaulan sehari-hari. Tanpa memiliki kemampuan untuk menguasai diri, maka kejiwaan anak tidak akan stabil, dan mengganggu proses perkembangannya.

b) Nilai-Nilai
Penanaman nilai-nilai dapat dilakukan bersamaan dengan pelatihan penguasaan diri, bagaimana anak dapat meminjamkan alat permainannya kepada temannya, dan juga kepadanya diajarkan kerjasama. Sebagai contoh, sambil mengajarkan anak menguasai diri agar tidak bermain-main sebelum mengerjakan pekerjaan rumahnya, kepadanya diajarkan nilai sukses dalam pekerjaan. Nilai-nilai demikian sangat besar fungsinya bagi proses internalisasi kebiasaan baik pada anak.

Isi Kode Etik Peserta Didik

Isi Kode Etik Peserta Didik - Adapun isi yang terkandung di dalam kode etik tersebut adalah sebagai berikut:

Isi Kode Etik Peserta Didik


  1. Pertimbangan dan atau rasionalitas mengapa kode etik tersebut ditetapkan dan harus ditaati.
  2. Standar tingkah laku peserta didik yang layak ditampilkan, baik ketika berada di sekolah, di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.
  3. Kapan peserta didik harus sudah berada di sekolah, dan kapan juga peserta didik harus sudah berada di rumah kembali.
  4. Pakaian yang bagaimanakah yang layak dipakai oleh peserta didik terutama di lingkungan sekolah.
  5. Apa saja yang wajib dilakukan oleh peserta didik berkaitan dengan lembaga pendidikan atau sekolahnya.
  6. Bagaimanakah hubungan antara peserta didik dengan guru, kepala sekolah, personalia yang lain, dengan teman sebaya (senior dan juniornya), orang tua, masyarakat pada umum bahkan tamu yang sedang berkunjung ke sekolah.
  7. Apa yang dilakukan oleh peserta didik ketika ada di antara temannya ada yang merasa kesusahan.


Langkah-langkah agar kode etik peserta didik benar-benar mengkhalayak kepada peserta didik secara keseluruhan. 

Pertama, undanglah wakil-wakil peserta didik. Wakil-wakil yang diundang tidak hanya terdiri dari mereka yang duduk formal dalam struktur organisasi peserta didik, melainkan juga mereka yang menjadi tokoh-tokoh non formal.

Kedua, berilah kesempatan kepada mereka untuk menyusun kode etik peserta didik, dengan memberikan bahan-bahan arahan seperti : pentingnya kode etik peserta didik, tata cara penyusunan kode etik peserta didik, isi yang terkandung dalam kode etik peserta didik, serta kemungkinan sanksi yang dapat diterapkan bagi pelanggar kode etik. Agar mereka dapat menyusun dengan baik, berikanlah contoh kode etik yang telah ada sebelumnya, agar dapat dijadikan perbandingan dalam menyusun kode etik yang baru tersebut.

Ketiga, sampaikan masukan-masukan pada konsep kode etik yang telah disusun oleh peserta didik tersebut. masukan-masukan ini sangat penting, agar isi yang terkandung di dalamnya, sangat baik untuk kepentingan banyak pihak. Berikan juga kesempatan kepada wakil orang tua atau komite sekolah untuk memberikan masukan-masukan serupa, agar mereka juga merasa turut memiliki dan bertanggung jawab akan kode etik tersebut.

Keempat, berikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjadi tim perumus kode etik dan tawarkan kepada mereka siapa yang harus mendampingi tim dalam merumuskan kembali konsep-konsep yang sudah mendapatkan banyak masukan.

Kelima, konsep akhir kode etik peserta didik hendaknya ditandatangani oleh ketua tim perumus dengan mengetahui ketua OSIS, yang selanjutnya diajukan kepada kepala sekolah untuk mendapatkan pengesahan.

Keenam, kode etik peserta didik yang sudah sampai di tangan kepala sekolah kemudian disahkan melalui surat keputusan (SK). Maka sejak ini, kode etik peserta didik dinyatakan sah dan berlaku sampai dengan batas waktu yang ditentukan sebagaimana dalam SK tersebut.

Setelah kode etik disahkan, lalu disampaikan kepada seluruh peserta didik yang ada di sekolah itu. Wakil-wakil peserta didik yang dahulu merumuskan, baik wakil yang formal maupun yang tidak formal, perlu dimintai bantuan untuk mensosialisasikan kepada teman-teman sebayanya. Dengan demikian, semua peserta didik akan merasa bahwa kode itu patut menjadi pedoman perilaku peserta didik.

(Siti Rogayah - www.sitirogayah.com)

Pengertian dan Tujuan Kode Etik Peserta Didik

Pengertian dan Tujuan Kode Etik Peserta Didik - Kode etik merupakan terjemahan dari ethical code yaitu norma- norma yang mengatur tingkah laku seseorang yang berbeda dalam lingkungan kehidupan tertentu, ia berisi rumusan baik-buruk, boleh-tidak boleh, terpuji-tidak terpuji, yang harus dipedomani oleh seseorang dalam suatu lingkungan tertentu.

Kode Etik Peserta Didik

Kode etik juga berasal dari kata kode etik. Kode berarti symbol atau tanda, sedangkan etik berasal dari bahasa latin ethica dan bahasa Yunani ethos. Dalam kedua bahasa tersebut, etik berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia.

Kode etik peserta didik adalah aturan-aturan, norma-norma yang dikenakan kepada peserta didik, berisi sesuatu yang menyatakan boleh-tidak boleh, benar-tidak benar, layak-tidak layak, dengan maksud agar ditaati oleh peserta didik. Aturan tersebut dapat berupa tertulis maupun tidak tertulis. 

Adapun tujuan kode etik peserta didik adalah sebagai berikut :

  1. Agar terdapat suatu standar tingkah laku tertentu yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi peserta didik di sekolah tertentu. Standar demikian sangat penting, mengingat peserta didik di sekolah berasal dari aneka ragam kultur yang membawa aspek-aspek yang ada pada kultur mereka masing-masing.
  2. Agar terdapat kesamaan bahasa dan gerak langkah antara sekolah dengan orang tua peserta didik serta masyarakat, dalam hal menangani peserta didik. 
  3. Agar dapat menjunjung tinggi citra peserta didik di mata masyarakat. Adanya ucapan, tingkah laku dan perbuatan yang pantas, sangat menjunjung tinggi citra dan wibawa peserta didik dan bahkan lembaga pendidikan secara keseluruhan.
  4. Agar tercipta suatu aturan yang dapat ditaati bersama, khususnya peserta didik, dan demikian juga personalia sekolah yang lain. Ketaatan demikian sangat penting, demi menjaga harkat dan martabat kemanusiaan peserta didik secara keseluruhan.


Perkembangan Islam Modern di Indonesia

Perkembangan Islam Modern di Indonesia - Sejarah perkembangan kebudayaan Islam ditandai pula dengan tumbuhkembangnya seni Kaligrafi. Seni kaligrafi, artinya karya yang menekankan tentang cara atau gaya menulis indah. Dalam bahasa Arab, seni menulis indah disebut “khat”.

Perkembangan Islam Modern di Indonesia

Perhatian umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia terhadap seni khat (kaligrafi) ditunjukkan dengan :

􀂄 Diadakannya pameran lukisan bertaraf internasional, yakni pada acara MTQ Nasional XI di Semarang (1979), pada Muktamar Pertama Media Massa Islam sedunia di Jakarta (1980), pada MTQ Nasional XII di Banda Aceh (1982), dan pada pameran Kalografi Islam di balai Budaya Jakarta dalam rangka menytambut Tahun baru hijrah 1405 (1984). 
􀂄 Diselenggarakannya Musabaqoh Khatt Indah Al-Qur’an (MKQ) dalam setiap MTQ.

Terkait dengan perkembangan Islam modern ini, ada baiknya diperhatikan pula mengenai perkembangan Islam Modern yang terjadi Indonesia. Kendati hanya sekedar contoh dan pendahuluan saja, namun perlu dipahami bahwa perjalanan dan komunikasi global yang dilakukan masyarakat Islam pada masa itu, telah menyebabkan muncul dan berkembangnya kerajaan Islam di Indonesia, dan atau gerakan pembaharuan Islam di Indonesia. Dalam kaitan ini, kita mengenal organisasi social keagamaan yang cukup besar di Indonesia.

Pertama, iyaitu Muhammadiyah. Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912. Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah. Terdapat pula organisasi khusus wanita

Kedua, Nahdhatul Ulama. Organisasi Nahdlatul Ulama (KebangkitanUlama), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia Organisasi ini berdiri pada 13 Januari 1926 oleh KH. Hasyim Asy’ari dan bergerak di bidang pendidikan, social dan ekonomi. Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenaldengan “kebangkitan nasional”.  Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.

Sebagai kelanjutan dari perkembangan Islam Modern (selepas tahun 1800), selain kedua organisasi sosial keagamaan ini, masih banyak lagi organisasi-organisasi Islam yang berkembang di Indonesia masa modern. Bahkan perkembanmgan organisasi itu, banyak yang sudah terlibat dalam bidang ekonomi (Syarikat Islam dan Syarikat Dagang Islam atau SI/SDI), pendidikan keagamaan (Persatuan Islam/PERSIS), Persatuan Umat Islam (PUI), dan juga yang bergerak dalam bidang politik seperti Masyumi.

Jual Beli yang Syah Menurut Islam

Jual Beli yang Syah Menurut Islam - Untuk mengenali pola jual beli yang syah menurut Islam, ada baiknya mengenali beberapa jenis transaksi yang di larang dalam Islam. Dengan demikian, akan dapat dengan mudah mengenali jenis jual beli yang dilarang dalam Islam.

Jual Beli yang Syah Menurut Islam

Ada dua alasan yang menyebabkan sebuah transaksi dapat dikatakan terlarang dalam Islam. Pertama, yaitu tidak terpenuhinya syarat-syarat sahnya jual beli. Bentuk-bentuk seperti ini yaitu :


  • Jual beli riba. Riba dalam Islam ada dua jenis, yaitu riba nasiah (riba dengan penundaan pembayaran), dan riba tafadul (riba dengan melipatgandakan jumlah pembayaran).
  • Jual beli garar dan yang belum jelas kadarnya. Bentuk jual beli seperti ini, yaitu menjual ikan dalam empang atau buah-buahan yang masih muda dan belum matang.
  • Jual beli bersyarat. Imam Abu Hanifah berkata bahwa “Rasulullah Muhammad saw melarang jual beli yang diikat oleh syarat”.
  • Menjual sesuatu untuk kemaksiatan atau terlarang walaupun barang yang diperjualbelikan itu asalnya bukan najis. Misalnya menjual patung untuk di sembah, menjual senjata untuk perampokan, atau menjual alat perjudian.


Bentuk jual beli yang kedua yaitu jual beli yang terlarang karena merugikan
pihak pembeli.


  • Membeli barang dari orang yang masih dalam situasi khiyar (pilihan). Apabila dua orang sedang mengadakan tawar menawar atas suatu barang, terlarang bagi orang lain untuk menawar barang tersebut sebelum orang pertama membatalkan rencana beli.
  • Jual beli yang mengecoh. Ada dua rupa yang sering dilakukan dalam tindakan mengecoh, yaitu mengecoh barang jualan dengan contoh, dan mengurangi timbangan. Pedagang di larang melakukan tindak pengecohan barang kepada pembeli, seperti menawarkan barang yang bagus, kemudian pada saat transaksi terjadi barang yang buruk yang diberikan kepada pembeli. Sikap seperti ini merupakan tindakan mengecoh pembeli dengan contoh yang baik atau mulus.
  • Jual beli dengan menghambat penjual sebelum sampai di pasar. Dari ibnu Abbas, bersabda Rasulullah saw, “Janganlah kamu menghambat orangorang yang pergi ke pasar (sebelum mereka sampai di pasar)”. (HR. Muttafaq alaih). Hal ini menunjukkan bahwa Islam melarang ada kelompok yang membeli barang dari penjual di tengah perjalanan dengan maksud untuk mendapatkan harga murah, untuk kemudian dijualnya sendiri ke pasar. Karena sikap seperti ini dapat merugikan pihak pembeli, sebelum mereka tahu harga pasar yang sesungguhnya.
  • Jual beli dari hasil pembelian barang yang ditimbun. Seperti halnya yang terjadi pada tindakan menghambat penjual sebelum ke pasar, sikap penimbunan barang pun merupakan bentuk transaksi yang dilarang dalam Islam.



Pentingnya Roja’

Pentingnya Roja’

Pentingnya Roja’ - Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa harap dan takut merupakan dua sayap, yang dengan dua sayap itu orang muqorrobin terbang ke setiap pangkat yang terpuji. Kedua hal tersebut merupakan sebuah pisau yang dengan dua pisau tersebut orang dapat berjalan ke akherat, memotong setiap tebing yang sukar di daki”. Seorang sufi benama Kalabazi berkata “takut itu adalah laki-laki, dan pengharapan itu adalah perempuan. Artinya, dari keduanya itulah lahir keimanan”.

Untuk menjelaskan masalah ini, penulis ingin kutipkan beberapa bait Jalaluddin Rumi (2001:60) yang berkaitan dengan rasa harap ini.

Ketika engkau ingin pergi ke suatu tempat, hatimu akan berangkat lebih dulu untuk melihat tempat tujuanmu. Memeriksa seperti apa sesungguhnya wujud tempat itu. Dan kemudian ia kembali untuk membawa tubuh ke sana.

Pendapat Jalaludin Rumi cocok dengan teori motivasi atau manajemen hidup. Bagi masyarakat modern sekarang, orang yang memiliki harapan besar, baik itu ditunjukkan dengan gairah hidup, motivasi tinggi, cita-cita yang agung atau berfikir positif, maka harapan yang dalam jiwanya tersebut akan mendorong dirinya untuk terus bekerja keras, berfikir cerdas dan bersemangat dalam mengisi hidup dan kehidupannya. Hal ini diungkapkan Jalaluddin Rumi (2001:129) dalam puisi berikut ini :

Manusia terbawa oleh segala sesuatu yang ia angankan. Sebagaimana angan-angan tentang sebuah kebun, akan membawanya menuju kebun, dan angannya tentang sebuah kedai membawanya menuju kedai, Tapi fatamorgana tersembunyi di dalam angan-angan itu. Tidakkah kau mengalami bahwa saat kau pergi ke suatu tempat tertentu dan kemudian menjadi menyesal ? Kau bayangkan tempat itu indah, tapi tenda-tenda yang di dalamnya tersembunyi seseorang. Ketika angan-angan itu akhirnya pergi dan muncullah kenyataan tanpa tenda imajinasi, maka itulah kebangkitan.

Definisi dan Arti Penting Ideologi

Definisi dan Arti Penting Ideologi - Apakah ideologi itu, dan bagaimana definisinya? Perlukah manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat untuk mengikuti mazhab dan mempercayai ideologi? Apakah keberadaan ideologi diperlukan oleh orang seorang atau masyarakat? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, perlu adanya mukadimah.

Definisi dan Arti Penting Ideologi

Ada dua macam aktivitas manusia: yang menyenangkan dan yang politik. Aktivitas yang menyenangkan adalah aktivitas yang dilakukan manusia untuk mendapatkan kesenangan atau untuk melepaskan diri dari kepedihan yang terjadi akibat pengaruh langsung nalurinya, karakter pembawaan atau kebiasaannya (yang juga merupakan kecenderungan yang terbentuk akibat lingkungan atau pengalaman dan sudah menjadi naluri, dan bukan karakter bawaan). Misal, kalau orang merasa haus, dia akan mengambil segelas air, bila dia melihat binatang penyengat, dia akan mengambil langkah seribu, dan kalau dia merasa ingin merokok, dia akan menyalakan rokok.

Perbuatan seperti itu sesuai dengan keinginan manusia dan berhubungan langsung dengan kesenangan dan kesedihan. Per­buatan yang menyenangkan membuat manusia tertarik untuk melakukannya, sedangkan perbuatan yang menyedihkan menjauhkan manusia dari perbuatan seperti itu. Politik merupakan aktivitas, yang aktivitas itu sendiri tidak menarik dan juga tidak menjijikkan. Naluri manusia atau karakter fitrinya tidak mendorong manusia untuk melakukan aktivitas seperti itu dan juga tidak menjauhkannya dari aktivitas seperti itu.

Manusia melakukan aktivitas seperti itu atau menghindari aktivitas seperti itu atas dasar kehendaknya sendiri karena dia merasa berkepentingan untuk melakukan aktivitas seperti itu atau tidak melakukan aktivitas seperti itu. Dengan kata lain, dalam kasus ini penyebab utama dan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah kepentingannya dan bukan kesenangan. Yang mendorong manusia untuk memperoleh kesenangan adalah nalurinya, sedangkan yang mendorong manusia untuk melakukan kepentingannya adalah akal. Kesenangan merangsang hasrat, sedangkan kepentingan membangkitkan kehendak. Manusia memperoleh kesenangan dari perbuatan yang menyenangkan ketika melakukan perbuatan itu. Namun manusia tidak memperoleh kesenangan dari perbuatan politik, sekalipun mungkin dia merasa bahagia karena merasa melakukan sesuatu yang dalam jangka panjang benar dan baik bagi dirinya. Ada perbedaan antara perbuatan yang mendatangkan kesenangan dan perbuatan yang tidak mendatangkan kesenangan dan mungkin justru menimbulkan kesulitan, meskipun manusia mungkin melakukannya dengan suka hati. Perbuatan politik tidak mendatang­kan kesenangan, karena tidak memberikan hasil langsung. Namun demikian, perbuatan politik memberikan kepuasan. Kesenangan dan kesulitan lazim dialami oleh manusia dan binatang. Namun kebahagiaan dan ketidakbahagiaan serta kepuasan dan kekecewaan hanya dialami oleh manusia. Begitu pula, menghasratkan sesuatu hanya terjadi pada manusia. Kepuasaan, kekecewaan dan berkeinginan merupakan fungsi-fungsi mental. Ketiga hal ini hanya ada dalam wilayah pikiran manusia, bukan dalam wilayah persepsi inderawi.

Telah kami sebutkan bahwa manusia melakukan perbuatan politik dengan bantuan akalnya dan pengendalian dirinya. Sebaliknya, perbuatan yang mendatangkan kesenangan dilakukan oleh manusia atas perintah perasaan dan kecenderungannya. Maksud dari perbuatan yang dilakukan atas perintah akal adalah bahwa kemampuan akal dalam mengkalkulasi melihat adanya manfaat, kesenangan atau kesempurnaan, menemukan cara untuk memperolehnya, yang terkadang boleh jadi melelahkan, dan kemudian berencana mendapatkannya. Arti dari melakukan perbuatan dengan bantuan pengendalian diri adalah bahwa manusia memiliki kemampuan yang menjadi sifatnya. Peran kemampuan ini adalah melakukan tindakan yang direstui oleh akal. Tindakan ini boleh jadi terkadang bertentangan dengan kecenderungan naluriahnya. Naluri muda seorang pelajar mengajaknya makan, minum, bersukaria, tidur dan bersetubuh, namun pikirannya yang tajam mengingatkannya tentang akibat buruk dari perbuatan-perbuatan ini dan mendorongnya untuk tetap jaga, bekerja keras dan untuk tidak memperturutkan kata hati untuk hidup mewah dan untuk tidak memperturutkan hawa nafsu. Pada masa ini manusia lebih suka mengikuti ajakan akal, karena menguntungkan dirinya, dan lebih suka mengabaikan ajakan nalurinya yang hanya menunjukkan kesenangan saja. Begitu pula, pasien tak suka minum obat yang pahit rasanya, namun dia tetap saja harus minum obat karena perintah akalnya yang memberikan petunjuk yang benar atau karena kekuatan kehendaknya yang dapat mengatasi kecenderungan naluriahnya.
Semakin kuat akal dan kehendak, semakin kuat kendalinya atas naluri, sekalipun kecenderungannya menghendaki sebaliknya. Dalam melakukan aktivitas politiknya, manusia pada setiap tahap mempraktikkan teori atau rencana. Semakin maju akal dan ke­hendak seseorang, semakin bersifat politik aktivitasnya, bukannya bersifat kesenangan. Semakin dekat dia dengan cakrawala sisi hewaninya, aktivitasnya semakin bersifat kesenangan bukannya politik, karena aktivitas yang bersifat mencari kesenangan kebanyakan merupakan aktivitas hewaniah.

Kita juga melihat binatang yang aktivitas tertentunya diarahkan untuk mencapai tujuan jangka panjang, seperti membuat sarang, migrasi, kawin dan reproduksi. Namun binatang tersebut me­lakukan aktivitas ini secara tidak sadar dan bukan karena pilihannya sendiri yang diambil setelah menentukan apa yang ingin dicapainya dan cara pencapaiannya. Sebaliknya, binatang tersebut melakukan aktivitas ini atas dasar ilham naluriah dari luar dirinya.

Mungkin saja ruang lingkup aktivitas politik manusia berkembang sehingga mencakup beberapa aktivitas kesenangan. Karena itu semua aktivitas manusia, sejauh mungkin, harus direncanakan dengan matang sehingga aktivitas kesenangan juga ada manfaatnya di samping sebagai kesenangan. Setiap aktivitas naluriah yang menanggapi perintah naluri, hendaknya mematuhi perintah akal juga. Kalau dalam aktivitas politik juga ada aktivitas kesenangan, dan jika aktivitas kesenangan menjadi bagian dari rencana politik umum kehidupan, maka naluri akan selaras dengan akal dan hasrat akan selaras dengan kehendak. Karena aktivitas politik berkisar pada seputar tujuan jangka panjang, tentu saja aktivitas ini membutuhkan perencanaan, metode dan pemilihan sarana untuk mencapai tujuan. Mengingat aktivitas ini ada segi individualistisnya, karena direncanakan oleh para induvidu untuk kepentingan dirinya, maka akal individulah yang menetapkan metode dan sarananya. Tentu saja, pilihan ditentukan oleh pengetahuan, informasi dan kemampuan menilainya.

Kendatipun aktivitas politik manusia penting sekali bagi sisi manusiawinya, namun aktivitas itu saja, apa pun kualitasnya, belumlah cukup untuk memberikan karakteristik manusiawi kepada semua aktivitasnya. Memang akal, pengetahuan dan perencanaan merupakan separo dari sisi manusiawi manusia, namun belum memadai untuk memberikan karakteristik manusiawi kepada aktivitas manusia. Aktivitas manusia baru dapat disebut manusiawi kalau sesuai dengan kecenderungan yang lebih tinggi, di samping rasional dan didasarkan pada kesadaran, atau setidaknya tidak bertentangan dengan kecenderungan yang lebih tinggi itu. Kalau tidak, maka aktivitas kriminal pun terkadang perencanaan dan pelaksanaannya sangat bagus. Rencana imperialis yang jahat menunjukkan fakta ini. Dalam Islam, rencana atau upaya yang dibuat untuk mencapai tujuan material dan hewani yang tidak sesuai dengan kecenderungan manusiawi dan religius dianggap buruk dan jahat. Bagaimanapun juga, aktivitas politik tidak manusiawi. Kalau aktivitas tersebut sifatnya hewani, maka jauh lebih berbahaya danpada aktivitas yang murni kesenangan. Misal, binatang, untuk mengisi perutnya, mencabik-cabik binatang lain atau manusia. Namun manusia yang dapat berhitung dan berencana, maka untuk mencapai tujan yang sama dia menghancurkan banyak kota dan membantai berjutajuta orang tak berdosa.

Pertanyaan apakah tujuan yang diusulkan oleh akal cukup atau tidak cukup untuk memenuhi kepentingan para individu, kita kesampingkan. Dengan kata lain, kita kesampingkan pertanyaan mengenai batas efektivitas akal para individu dalam menentukan kepentingannya masing-masing. Namun, bagaimanapun juga, tak ada keraguan bahwa kemampuan berpikir diperlukan dan bermanfaat untuk membuat perencanaan hidup yang parsial dan terbatas. Dalam hidupnya, manusia menghadapi banyak problem seperti memilih teman, memilih bidang pendidikan, memilih pasangan hidup, memilih pekerjaan, bepergian, perilaku dalam masyarakat, rekreasi, aktivitas yang bajik, melawan praktik tidak bermoral dan jahat, dan seterusnya. Untuk semua ini, manusia tentu saja perlu berpikir dan membuat perencanaan. Semakin keras berpikir, semakin besar kemungkinannya untuk sukses. Dalam beberapa kasus dia bahkan perlu bantuan pikiran dan pengalaman orang lain (prinsip konsultasi). Dalam semua kasus ini manusia membuat perencanaan dan kemudian melaksanakannya.

Namun demikian, pertanyaan yang masih mengganjal adalah, apakah pada skala yang lebih luas manusia mampu membuat perencanaan umum yang meliputi semua problem kehidupan pribadinya dan yang dapat diterapkan pada segala situasi, atau dia hanya mampu menangani beberapa kasus tertentu dan skalanya juga terbatas, dan apakah meliputi segala situasi dan menjamin kesuksesan di segala hal berada di luar kemampuan akal manusia.

Kita tahu bahwa beberapa filosof mempercayai teori "mampu memenuhi kebutuhan sendiri". Mereka mengklaim menemukan jalan untuk bahagia dan tidak bahagia, dan dapat hidup bahagia dengan hanya bersandar pada kehendak dan kekuatan pikir mereka sendiri. Kita juga tahu bahwa tak dapat ditemukan dua filosof yang, berkenaan dengan jalan ini, pendapatnya satu.

Kebahagiaan itu sendiri, yang menjadi tujuan final, termasuk dalam hal-hal yang sangat mendua, sekalipun konsepsi mengenai kebahagiaan sekilas tampak sangat jelas. Masih belum jelas apa sebenarnya kebahagiaan dan apa saja yang mewujudkan kebahagia­an. Manusia sendiri dan kemampuannya belum diketahui. Sepanjang manusia belum diketahui, mana mungkin kita dapat mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan dan bagaimana memperoleh ke­bahagiaan?

Lagi pula, manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan sosialnya membawa beribu-ribu problem bagi dirinya yang tak dapat dipecahkannya. Biar bagaimanapun tugasnya haruslah jelas. Mengingat manusia adalah makhluk sosial, maka kebahagiaannya, aspirasinya, standar baik dan buruknya, jalan hidupnya, pilihannya akan sarana hidup, jalin berkelindan dengan kebahagiaan sesama manusia, aspirasi mereka, standar baik dan buruk mereka, jalan hidup mereka dan pilihan mereka akan sarana hidup. Manusia tidak dapat memilih jalannya tanpa bergantung pada sesamanya. Manusia harus mencari kebahagiaannya di jalan yang membawa masyarakat ke kebahagiaan dan kesempurnaan.

Jika mempertimbangkan masalah roh yang abadi, dan akal yang tidak memiliki pengalaman dengan kehidupan akhirat, maka problemnya menjadi jauh semakin sulit. Kini di sini terlihat kebutuhan akan mazhab, ideologi, teori umum atau sistem yang komprehensif dan harmonis, yang tujuan pokoknya adalah ke-sempurnaan manusia dan kebahagiaan bagi semua. Sistem ini harus memerinci prinsip-prinsip pokok, berbagai metode, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, perbuatan baik dan buruk, tujuan dan sarana, tuntutan dan pemecahannya, tanggung jawab dan kewajiban. Juga harus menjadi sumber yang mendorong semua individu untuk menjalankan kewajiban.

Sejak awal, atau setidaknya sejak perkembangan kehidupan sosial melahirkan begitu banyak perselisihan,[1] manusia membutuhkan ideologi atau, dalam terminologi Al-Qur'an disebut dengan "syariat". Waktu berlalu, dan manusia semakin maju, kebutuhan ini pun kian kuat. Di masa dahulu, kecenderungan rasial, kebangsaan dan kesukuan menguasai masyarakat-masyarakat manusia, seperti misalnya semangat kebersamaan. Semangat ini kemudian melahirkan serangkaian ambisi—sekalipun tidak manusiawi—yang memper-satukan masing-masing masyarakat, dan memberinya orientasi tertentu. Sekarang kemajuan ilmu pengetahuan dan akal telah melemahkan ikatan-ikatan seperti ini. Watak ilmu pengetahuan adalah cenderung kepada individualisme, melemahkan sentimen dan ikatan yang didasarkan pada sentimen. Juga hanyalah sebuah filsafat hidup yang rasional yang dipilih secara sadar, atau dengan kata lain sebuah ideologi yang komprehensif dan sempurna, yang dapat mempersatukan umat manusia dewasa ini atau malah umat manusia di masa depan, memberinya orientasi, ideal bersama dan standar bersama untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

Dewasa ini, lebih daripada sebelumnya, manusia membutuhkan filsafat hidup seperti itu, sebuah filsafat yang mampu menarik perhatiannya kepada realitas di luar para individu dan di luar kepentingan mereka. Fakta bahwa mazhab atau ideologi merupakan salah satu yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial, tak lagi diragukan.

Kini pertanyaannya adalah: Siapa yang dapat merumuskan ideologi seperti itu? Tak pelak lagi, akal para individu tak dapat merumuskannya. Dapatkah akal kolektif merumuskannya? Dapatkah manusia, dengan menggunakan segenap pengalamannya serta informfei lama dan barunya, merumuskan ideologi seperti itu? Kalau kita akui bahwa manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka mana mungkin kita berharap dia mengenal masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial. Lantas harus bagaimana? Kalau saja konsepsi kita tentang alam semesta benar, dan kita percaya bahwa dunia memiliki sistem yang seimbang dan tak ada yang tak beres atau tak masuk akal pada dunia, maka harus kita akui bahwa mesin kreatif yang hebat ini memperhatikan masalah besar ini dan sudah memerinci skema pokok sebuah ideologi dari cakrawala yang berada di atas cakrawala akal manusia, yaitu dari cakrawala wahyu (prinsip kenabian). Kerja akal dan ilmu pengetahuan adalah mengikuti skema ini.

Dengan bagus Ibnu Sina mengemukakan masalah ini ketika menguraikan kebutuhan umat manusia terhadap hukum Tuhan (syariat) yang diturunkan melalui seorang manusia. Dalam Kitab-nya "Najat", dia berkata:
"Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi jauh lebih dibutuhkan bagi kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempumaan eksistensi manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alls mata, lekuk tapak kakinya, atau hal-hal lain seperti itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan ras manusia, namun tidak perlu sekali."

Dengan kata lain, mana mungkin mesin kreatif yang hebat ini, yang kebutuhan kecil dan sepele pun bahkan diperhatikannya, tidak memperhatikan kebutuhan yang sangat penting ini?

Namun jika kita tidak memiliki konsepsi yang benar mengenai alam semesta, kita dapat mengambil gagasan yang menyebutkan bahwa manusia sudah digariskan nasibnya untuk kebingungan dan salah, dan bahwa ideologi manusiawi tak lebih daripada rekreasi atau upaya yang menarik. Pembahasan di atas bukan saja menjelaskan kebutuhan akan adanya mazhab atau ideologi, namun juga memperlihatkan perlunya para individu mengikuti mazhab atau ideologi.

Sesungguhnya, arti dari mengikuti ideologi adalah meyakini ideologi tersebut, sedangkan keyakinan tidak dapat dipaksakan, juga tidak dapat dipandang sebagai masalah praktis. Orang dapat saja dipaksa tunduk kepada sesuatu, namun ideologi tidak menuntut ketundukan. Yang dituntut ideologi adalah keyakinan. Ideologi adalah untuk diterima dan dimengerti. Ideologi yang bermanfaat harus didasarkan pada konsepsi ten tang dunia yang dapat meyakinkan akal dan memupuk pikiran, dan harus mampu menangkap sasaran yang menarik dari konsepsinya tentang alam semesta. Keyakinan dan semangat merupakan dua unsur dasar dari agama. Kedua unsur ini secara bersama-sama membentuk ulang dunia.

Namun ada beberapa pertanyaan yang harus dibahas secara ringkas. Kalau ada kesempatan yang lebih baik, pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas dengan terperinci.
Karakter Keyakinan Religius

Karakter Keyakinan Religius

Karakter Keyakinan Religius - Kecenderungan religius mendorong manusia melakukan berbagai upaya, sekalipun dengan mengorbankan perasaan individualistis dan naluriahnya. Terkadang manusia mengorbankan jiwanya dan kedudukan sosialnya untuk kepentingan agamanya. Hal ini dapat terjadi hanya bila idealnya sudah mencapai tingkat kesucian dan sepenuhnya mengendalikan eksistensinya. Hanya kekuatan religiuslah yang dapat membuat suatu ideal menjadi suci, dan membuat ideal tersebut memiliki otoritas terhadap manusia.

Memang, sering orang mengorbankan jiwanya, hartanya dan semua yang dicintainya bukan untuk kepentingan ideal atau keyakinan religius apa pun, melainkan karena ditekan oleh rasa benci, dengki, dendam atau karena reaksi keras terhadap rasa tertindas. Kasus-kasus seperti ini lumrah terjadi di seluruh penjuru dunia.

Namun, antara ideal religius dan ideal non-religius ada bedanya. Karena keyakinan religius dapat membuat suatu ideal menjadi suci, maka untuk kepentingan keyakinan tersebut dilakukan berbagai pengorbanan secara ikhlas dan naluriah. Tugas yang ditunaikan dengan ikhlas memperlihatkan suatu pilihan, namun tugas yang ditunaikan karena pengaruh tekanan jiwa yang mengusik, berarti suatu ledakan. Jadi jelaslah, antara keduanya ada perbedaan yang besar.
Selanjutnya, kalau konsepsi manusia mengenai dunia bersifat material semata dan dasarnya hanyalah realitas yang kasat mata, maka dia melihat segala bentuk idealisme sosial dan manusiawi bertentangan dengan realitas kasat mata dan hubungannya dengan dunia yang dirasakannya pada saat tertentu.

Psikolog yang sekaligus Filosof Amerika awal abad ke-20, William James, berkata:
"Hasil dari konsepsi persepsional hanyalah egoisme, bukan idealisme. Idealisasi tidak akan sampai melewati batas fantasi jika dasarnya adalah konsepsi mengenai dunia yang hasil logisnya adalah ideal yang bersangkutan. Manusia harus membentuk dunia gagasannya sendiri, yang terbentuk dari realitas-realitas yang ada di dalam dirinya, dan hidup bahagia dengan dunia gagasannya tersebut. Namun demikian, jika idealisme lahir karena keyakinan religius, maka idealisme tersebut dasarnya adalah konsepsi mengenai dunia, yang hasil logisnya mendukung ideal sosial. Keyakinan religius adalah semacam hubungan mesra antara manusia dan dunia, atau dengan kata lain semacam keselarasan antara manusia dan ideal universal. Sebaliknya, keyakinan non-religius dan ideal adalah semacam pencampakan dunia kasat mata untuk membangun dunia imajiner yang sama sekali tidak mendapat dukungan dari dunia kasat mata tersebut."

Keyakinan religius bukan saja menetapkan bagi manusia sejumlah tugas, terlepas dari kecenderungan naluriahnya, namun juga sepenuhnya mengubah pandangannya tentang dunia. Dalam struktur pandangannya ini, dia mulai melihat unsur-unsur baru. Dunia yang kering, dingin, mekanis dan material itu diubah menjadi dunia yang hidup. Keyakinan religius mengubah kesan manusia mengenai alam semesta. William James berkata:

"Dunia yang ditampilkan oleh pemikiran religius bukan saja dunia material ini yang sudah berubah bentuknya, namun juga meliputi banyak aspek yang tak dapat dibayangkan oleh seorang materialis." (Psychoanalysis and Religion, hal. 508)

Selain itu, setiap manusia mempunyai fitrah untuk mempercayai kebenaran dan realitas spiritual yang menarik. Manusia memiliki banyak kemampuan terpendam yang siap ditumbuh-kembangkan. Semua kecenderungannya sifatnya non-material. Kecenderungan spiritual yang dimiliki oleh manusia sifatnya fitri, bukan hasil dari upaya. Ini merupakan fakta yang didukung oleh ilmu pengetahuan.

William James berkata:
"Kalau benar alasan dan pendorong kita adalah dunia material ini, namun mengapa sebagian besar hasrat dan kecenderungan kita tidak sesuai dengan kalkulasi material. Ini menjelaskan bahwa sebenarnya alasan dan pendorong kita adalah dunia metafisis." (Psychoanalysis and Religion, hal. 508. New York, 1929)

Mengingat kecenderungan spiritual memang ada, maka kecen­derungan ini harus ditumbuh-kembangkan dengan baik dan saksama. Kalau tidak, bisa-bisa kecenderungan ini menyimpang dari jalan yang benar, dan akibatnya adalah kerugian yang tak mungkin dapat ditutup.

Psikolog yang lain, Erich Fromm, mengatakan:
"Tak ada manusia yang tidak membutuhkan agama dan tidak menghendaki batas bagi orientasinya dan subjek bagi masa lalunya. Manusia sendiri boleh jadi tidak membedakan antara keyakinan religius dan keyakinan non-religiusnya, dan boleh jadi percaya bahwa dirinya tak beragama. Boleh jadi dia memandang fokusnya kepada tujuan yang kelihatannya nonreligius, seperti harta, tahta atau kesuksesan, sebagai semata-mata isyarat perhatiannya kepada urusan praktis dan upaya untuk mewujudkan kesejahteraannya sendiri. Yang menjadi masalah bukanlah apakah manusia beragama atau tidak beragama, melainkan apa agama yang dianutnya." (Psychoanalysis and Religum, hal. 508)

Yang dimaksud oleh psikolog ini adalah, bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa menyucikan dan mencintai sesuatu. Kalau yang diakui dan disembahnya bukan Allah, dia pasti mengakui sesuatu sebagai realitas yang absolut, dan pasti menjadikannya sebagai objek keyakinan dan pemujaannya. Mengingat manusia membutuhkan ideal dan keyakinan, dan berdasarkan naluri dia berupaya mendapatkan sesuatu yang boleh jadi disucikan dan dipujanya, maka satu-satunya jalan adalah meningkatkan keyakinan religius kita, yang merupakan satu-satunya keyakinan yang benar-benar dapat mempengaruhi manusia.

Al-Qur'an Suci merupakan Kitab pertama yang menggambar-kan keyakinan religius sebagai semacam harmoni antara manusia dan alam semesta.

Apakah mereka mencari sesuatu selain agama Allah? Namun kepada-Nya tunduk patuh apa yang ada di langit dan di bumi. (QS. Ali 'Imran: 83)

Al-Qur'an Suci juga menyebutkan bahwa keyakinan religius merupakan bagian dari fitrah manusia.

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus. Yaitu fitrah di mana Allah telah mendptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. ar-Rum: 30)
Pengertian Iman kepada Kitab-kitab Allah

Pengertian Iman kepada Kitab-kitab Allah

Pengertian Iman kepada Kitab-kitab Allah  - Percaya kepada wahyu (kitab-kitab) yang diturunkan Allah Swt., berarti tidak hanya percaya kepada Al-Qur’an, tetapi juga percaya kepada segala wahyu yang diturunkan dalam semua masa, serta yang diturunan kepada setiap umat. Bila ada yang bertanya, mengapa seorang muslim wajib beriman kepada kitab-kitab Allah selain kitab suci Al-Qur’an ?

Mahmud Syaltut berpendapat bahwa tuntunan pentingnya beriman kepada kitab-kitab Allah karena antara kitab yang satu dengan kita yang lainnya, memiliki kesatuan risalah ketuhanan. Artinya, setiap nabi yang diutus Allah Swt., membawa ajaran yang sama dan tujuan yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. Oleh karena itu, dimanapun tinggalnya, setiap umat manusia di muka bumi diturunkan buku pedomannya masing-masing. Hal ini ditegaskan dalam Qur’an Surah Al-F±¯ir ayat 24.
Terjemahan
Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Qs. Al-F±¯ir : 24)

Maksud “membawa kebenaran” yaitu membawa agama tauhid dan hukum-hukumnya. Dalam ayat yang lain, beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan bagian dari rukun Iman dalam ajaran Islam. Dalam ayat 136 surah Al-Baqarah dikemukakan bahwa salah satu ciri orang muslim (tunduk dan patuh) itu yakni beriman kepada kitab-kitab Allah Swt.
Terjemahan
Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqarah : 136)

Kitab-kitab Allah yang sudah disampaikan kepada nabi dan rasul-Nya ada empat, yaitu :
1) Kitab Taurat yang disampaikan kepada Nabi Musa as.
2) Kitab Zabur yang disampaikan kepada Nabi Daud as.
3) Kitab Injil yang disampaikan kepada Nabi Isa as.
4) Kitab Al-Qur’an disampaikan kepada Nabi Muhammad saw.

Karena itu seorang muslim harus percaya pada Kitab Taurat, Injil dan wahyu-wahyu lain yang diturunkan Allah Swt. Selain keempat kitab suci tersebut, ada nabi dan rasul yang mendapatkan lembaran-lembaran kitab. Terhadap bentuk kitab-kitab ini pun kita wajib untuk mengimaninya sebagai bagian dari kitab-kitab Allah Swt. Bentuk kitab suci ini disebut mushaf (¡uhuf) sebagaimana yang disampaikan kepada nabi Ibrahim as dan nabi Musa as. firman Allah Swt dalam Qur’an surah Al-‘Ala ayat 18-19, berbunyi :

Terjemahan
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (QS. Al-A’l±: 18 - 19)

Secara umum, ada empat perilaku seorang muslim yang menunjukkan sikap iman kepada kitab-kitab Allah. Keempat tindakan tersebut, yaitu :

  • Meyakini keberadaan kitab-kitab Allah. Seorang muslim wajib menyakini adanya kibat-kitab Allah, selain kitab suci Al-Qur’an. Sikap ini merupakan konsekuensi dari sikap iman seorang Muslim terhadap Al-Qur’an. Dengan kata lain, ketika Al-Qur’an mengataka bahwa ada kitab-kitab Allah selain Al- Qur’an maka seorang Muslim wajib beriman kepada kitab-kitab Allah Swt.

  • Meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Allah Swt kepada manusia. Kehadiran ajaran-ajaran kitab suci yang sebelumnya, tetap dapat berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan kitab suci Al-Qur’an. Hal ini terkait dengan adanya bukti bahwa kitab suci sebelum Al-Qur’an banyak yang sudah direkayasa oleh manusia sehingga sudah tidak asli lagi. Sementara terhadap, ajaran-ajaran yang masih relevan dengan Al-Qur’an dapat digunakannya sebagai pengetahuan sekaligus memperkuat keimanan kita terhadap ayat suci Al-Qur’an. Ada beberapa contoh yang membuktikan bahwa ajaran dalam kita suci sebelum Al-Qur’an pun ada juga yang relevan dengan Islam. Misalnya saja 10 Perintah Tuhan (The Ten Commandements) yang disampaikan kepada Nabi Musa as dan Nabi Isa as.

Dalam The Ten Commandements tersebut di nyatakan bahwa (1) jangan perserikatkan Tuhan dengan apa pun, (2) Tunjukkan keramahan kepada kedua orangtua, atau jangan berbuat kasar kepada mereka, (3) jangan membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, sebab Kami melengkapi kebutuhan hidup kalian dan mereka, (4) jangan menghampiri perbuatan-perbuatan onar, baik yang terbuka maupun yang tertutup, (5) jangan membunuh siapapun yang di larang Tuhan, kecuali melalui proses hukum. Tuhan menginstruksikan ini kepada kalian supaya kalian menggunakan akal sehat, (6) jangan mendekati kekayaan anak yatim sebelum ia mencapai usia matang, kecuali untuk mengembangkannya,
(7) penuhkan sukatan dan timbangan dengan segala keadilan, Tuhan tidak membebani seseorang kecuali semampunya, (8) kapanpun kalian berbicara, adillah sekalipun terhadap kaum kerabat, (9) penuhi janji Tuhan. Tuhan telah menginstruksikan ini kepada kalian semoga kalian ingat, (10) inilah jalan-Ku yang lurus. Ikutilah dan jangan mengikuti jalan-jalan sehingga kalian terpisah dari jalan-Nya. Demikian Tuhan menginstrukskan kepada kalian semoga kalian melakukan tugas kalian.
  • Menjaga shilaturahmi dan atau ukhuwwah dengan sesama ahlul kitab. Siapapun orangnya, bila dia menganut kepercayaan terhadap kitab-kitab yang telah turunkan Allah Swt., dia dapat dikelompokkan sebagai saudara bagi seorang muslim.
  • Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Islam memberikan keterangan bahwa salah satu fungsi turunnya Al-Qur’an itu adalah memberikan penjelasan atau keterangan kepada manusia tentang ajaranajaran dalam kitab yang sudah diturunkan sebelumnya. Dengan demikian, melalui ajaran Al-Qur’an ini manusia dapat memberikan keputusan atau hukum kepada sesama manusia secara adil sesuai dengan syari’at Islam. Allah Swt berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 48, yang artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Al-Qur’an membenarkan apa yang termasuk dalam kitab-kitab suci yang lain, tetapi juga menguji kemurinian dari kitab-kitab suci itu. Karena itu Al-Qur’an memuat kisah-kisah dari nabi-nabi yang tedahulu, selain untuk mengambil pelajaran, juga mendudukan kejadian yang sebenarnya. Begitulah Al-Qur’an memuat kisah-kisah dari Nabi Adam as., Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., dan lain sebagainya.

Perilaku Melestarikan Lingkungan Hidup

Perilaku Melestarikan Lingkungan Hidup - Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia, pada satu sisi membawa dampak yang sangat positif namun di sisi lain membawa dampak negatif terhadap kelestarian hutan. 

Mari Peduli Lingkungan

Akibatnya pencapaian pertumbuhan ekonomi di satu sisi dan konservasi lingkungan di sisi lain seolah menjadi dua sisi pembangunan yang saling berseberangan. Perusakan hutan yang semakin marak mengakibatkan degradasi fungsi hutan yang semakin memprihatinkan. Degradasi ini disebabkan oleh adanya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya hutan serta pengelolaan hutan yang tidak tepat, antara lain ilegal logging, perambahan, penjarahan, okupasi lahan, kebakaran hutan, serta pengolahan kayu yang melebihi kemampuan supply bahan bakunya.

Kondisi seperti ini semakin diperparah oleh lemahnya penegakan hukum, lambatnya pemulihan ekonomi, rendahnya kesejahteraan masyarakat, merebaknya konflik sosial serta kurangnya sinergitas pengelolaan hutan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta perilaku dan peran masyarakat itu sendiri dalam pelestarian hutan.

Kondisi di atas tentunya tidak boleh kita biarkan karena keberlangsungan hidup kita akan tergantung pada daya dukung dan daya tampung lingkungan, kualitas hidup kita juga akan tergantung pada kualitas lingkungan, serta sebagai khalifatullah fil ard (wali Allah di muka bumi) maka kita pun memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.

Tuhan memang telah mengaruniakan lingkungan hidup kepada masyarakat Indonesia yang kaya ini untuk diambil manfaatnya demi kesejahteraan umat manusia, karena itu kita harus bersyukur dengan cara memelihara kelestariannya. Tanah, hutan, dan kekayaan alam ini pada hakekatnya adalah titipan anak cucu kita, agar di masa mendatang mereka pun dapat memanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya.

Pengalaman negara maju, seperti Jepang, ternyata meskipun kegiatan industri dan perdagangan Jepang tumbuh demikian tinggi dalam beberapa dekade terakhir, akan tetapi konservasi lingkungan mereka juga sangat baik sehingga saat ini ternyata tidak kurang dari 70% wilayah Jepang ditutupi oleh hutan yang terpelihara baik.

Hal ini membuktikan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi bisa dilakukan secara bersamaan dengan upaya konservasi lingkungan, sepanjang masyarakat, dunia usaha dan pemerintah senantiasa bergandengan tangan dalam mengelola lingkungan.

Oleh karena itu, sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa Allah Swt mengingatkan tentang potensi sumber daya alam yang melimpah baik di darat maupun dilautan untuk bisa dikelola untuk kepentingan manusia. Pengelolaan lingkungan pesisir dan laut sesungguhnya tidak bisa terlepas dari pengelolaan lingkungan dalam batasan daerah aliran sungai. Wilayah pesisir dan laut merupakan muara dari suatu daerah aliran sungai sehingga dampak dari aktivitas pembangunan yang dilakukan di daerah hulu akan dirasakan di daerah pesisir.

Karena itu, pengelolaannya tidak bisa dibatasi dalam batasan wilayah administrasi namun harus dilakukan secara terkoordinasi dalam batasan daerah aliran sungai. Dengan demikian, kewajiban mengelola lingkungan pesisir tidak hanya melekat pada masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir saja namun juga merupakan kewajiban seluruh masyarakat yang tinggal di daerah hulunya. Perlu ada kerjasama semua pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Berkaitan dengan itu, pembangunan daerah yang akan kita laksanakan ke depan adalah pembangunan daerah yang berada dalam koridor pembangunan berkelanjutan. Sebagai konsekuensinya segala langkah pembangunan saat ini harus senantiasa mempertimbangkan pengaruhnya bagi generasi yang akan datang, bagi daerah lain dan bagi kelompopk masyarakat lain.

Sebagai bagian dari masyarakat dunia, kita memang mutlak dituntut untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Hal itu sejalan pula dengan millenium development goals yang dicanangkan oleh para pemimpin negaranegara sedunia di Johanesburg beberapa waktu yang lalu, antara lain :
􀂄 Mengurangi tingkat kemiskinan dan kelaparan yang parah;
􀂄 Mencapai pendidikan dasar secara menyeluruh;
􀂄 Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup; serta
􀂄 Mengembangkan kemitraan global dalam pembangunan.
Back To Top