-->
Motivasi Menulis

Tujuan Evaluasi Pendidikan

Tujuan Evaluasi Pendidikan - Evaluasi pendidikan adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan.Pada penilaian disekolah, guru ataupun pengelola pengajaran mengadakan penilaian dengan maksud melihat apakah usaha yang dilakukan melalui pengajaran sudah mencapai tujuan.

Tujuan Evaluasi Pendidikan

Daryanto (2011, hal. 7)Jika digambarkan dalam bentuk diagram akan terlihat sebagai berikut :

a. Input
Yaitu bahan mentah yang dimasukkan kedalam transformasi. Dalam dunia sekolah maka yang dimaksud dengan bahan mentah adalah calon siswa baru akan memasuki sekolah. Sebelum memasuki suatu tingkat (institusi), calon siswa itu dinilai dahulu kemampuannya. Dengan evaluasi itu ingin diketahui apakah kelak ia akan mampu mengikuti pelajaran dan melaksanakan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya.

b. Output
Yaitu bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi.Yang dimaksud dalam pembicaraan ini adalah siswa lulusan sekolah yang bersangkutan. Untuk dapat menentukan apakah seorang siswa berhak lulus  atau tidak, perlu diadakan kegiatan evaluasi.

c. Transformasi
Yaitu mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi.Dalam dunia sekolah, sekolah itulah yang dimaksud dengan transformasi.

d. Umpan balik
Yaitu segala informasi baik yang menyangkut output maupun transformasi. Umpan balik ini diperlukan sekali untuk memperbaki input maupun trasformasi. Lulusan yang kurang bermutu atau yang belum memenuhi harapan, akan menggugah semua pihak untuk mengambil tindakan yang berhubungan dengan penyebab kurang bermutunya lulusan.

Tujuan umum melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutya. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi, yaitu:(Daryanto, 2011, hal. 11)
1. Penempatan pada tempat yang tepat,
2. Pemberian umpan balik,
3. Diagnosis kesulitan belajar siswa, atau
4. Penentuan kelulusan.

Siti Rogayah - www.sitirogayah.com

Pengertian Penilaian Diri (Self Assessment)

Pengertian Penilaian Diri (Self Assessment) - Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta ddik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetisi yang dipelajarinya. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor.


Penilaian diri

  1. Penilaian kompetensi kognitif di kelas, misalnya : peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
  2. Penilaian kompetensi afektif, misalnya: peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. Selanjutnya, peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
  3. Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik, peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain:

  • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserat didik, karena ketika mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;
  • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan penialain, harus melakukan intropeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;
  • dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.

Pengertian Kriteria Ketuntasa Minimal (KKM)

Pengertian Kriteria Ketuntasa Minimal (KKM) - Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasisi kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentudalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

kkm

KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keeputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva norml sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk mendapatkan sejumalh peserta didik yang melebihi 6,0 sesuai proporsi kurva. Acuan kriteeria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteri Ketuntasan Minimal.

KKM ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM.

Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100. Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan, mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal dibawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penilaian

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penilaian - Agar dapat melaksanakan penilaian dengan baik, maka seseorang penilai harus mengantisipasi kemungkinan munculnya kesalahan baik dalam proses maupun dalam pengambilan keputusan. Untuk dapat mengantisipasi, maka sebaiknya kita mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian. Secara garis besar ada 4 faktor yang mempengaruhi penilaian, yaitu:

Ilustrasi


  1. Faktor alat penilaian yang digunakan: Alat penilaian sangat menentukan sebuah penilaian, alat penilaian yang baik, adalah yang valid dan reliebl. Validitas suatu alat penilaian dapat dilihat dari kesesuaian alat penilaian dengan tujuan dan sasaran penilaiannya, validitas, dan reliabilitas suatu alat evaluasi dapat ditentukan melalui pengukuran tingkat validitas dan reliabilitas dengan menggunakan bantuan statistik. Selain itu, alat penilaian yang baik adalah alat penilaian yang mudah digunakan dan menggunakan bahasa yang baik dan benar serta mudah dipahami.
  2. Faktor yang dinilai: Faktor yang mempengaruhi penilaian adalah: faktor orang yang dinilai, ada dua hal yang mempengaruhi penilaian yang bersumber dari yang dinilai , yaitu: Kondisi fisik peserta pada saat ujian berlangsung, Kondisi psikis (kondisi kejiwaan) peserta pada saat ujian.
  3. Faktor penilai: Ada beberapa hal yang mempengaruhi penilaian yang bersumber dari penilai (guru), yaitu: Faktor subjektifitas, yaitu kebalikan dari objektifitas, Faktor Halo effects, yaitu kelemahan yang akan timbul jika pencacatan terpikat oleh kesan-kesan umum yang baik pada peserta didik, faktor generosity , yaitu adanya keinginan seseorang penilai untuk berbuat baik, dan faktor salah hitung dalam pemeriksaan.
  4. Faktor kondisi dan situasi pada saat penilaian berlangsung: Faktor yang mempengaruhi bersumber dari kondisi dan situasi pada saat penilaian berlangsung terdiri atas beberapa faktor, yaitu: faktor pengawasan pada saat penilaian berlangsung, dan faktor kegaduhan ruangan.
  5. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan hasil penilaian yang menggambarkan dengan benar pencapaian peserta didik, maka seorang penilai harus senantiasa memperhatikan faktor tersebut diatas. Ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan dalam penilaian, dan memfungsikan sesuai dengan fungsinya. Sumber (St. Syamsudduha, Penilaian berbasis kelas: konsep dan aplikasi, 2014, Aynat: Yogyakarta)

Pengertian Skor dan Nilai dan Contohnya

Pengertian Skor dan Nilai dan Contohnya - Kadang-kadang kita masih sering menganggap bahwa skor memiliki pengertian yang sama dengan nilai, pdahal anggapan semacam itu, belum tentu benar.

Skor dan Nilai


Menurut Anas Sudijono (2003), Skor adalah hasil pekerjaan menskor (memberikan skor) yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee (istilah bagi orang yang mengerjakan tes) telah dijawab dengan betul, dengan memperhatikan bobot jawaban betulnya.

Contohnya; dalam sebuah tes hasil belajar dalam bidang studi akidah akhlak menyajikan lima butir soal tes uraian, dimana untuk setiap butir soal yang dijawab dengan betul diberikan bobot 10. Siswa bernama Aminah, untuk kelima soal tersebut memberikan jawaban sebagai berikut:

  1. Untuk butir soal nomor 1 dapat dijawab dengan sempurna, sehingga diberi skor 10.
  2. Untuk butir soal nomor 2 hanya dijawab betul setengahnya, skor yang diberikan 5.
  3. Untuk butir soal nomor 3 hanya dijawab betul sekitar seperempat bagian, diberikan skor 2,5
  4. Untuk butir soal no. 4 dan 5 dijawab betul sekitar 3/4. sehingga diberi skor 7,5.
Nilai menurut Suharsimi (2006) adalah angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu, yakni acuan norma dan acuan patokan. Dengan demikian kegiatan mengubah/mengkon-versi skor menjadi nilai disebut kegiatan menilai. 

(Sumber: Dr. St. Syamsudduha, 2014. penilaian Berbasis Kelas Konsep dan Aplikasi, Yogyakarta: Penerbit Aynat)
Back To Top