-->
Motivasi Menulis

Masalah Stres

Masalah Stres - Stres adalah suatu bentuk gangguan emosi yang disebabkan adanya tekanan yang tidak dapat diatasi oleh individu. Di sekolah siswa mungkin mengalami stres saat hubungannya dengan temannya tidak bisa berjalan baik, atau saat mereka menghadapi ujian. Sering terjadi siswa atau mahasiswa ditekan terus-menerus untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam waktu yang semakin sedikit. Stres terjadi jika seseorang dihadapkan pada periswatia yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik dan psikologisnya. Peristiwa-peristiwa tersebut disebut stresor, dan reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres. Stres yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan emosi yang menyakitkan seperti kecemasan dan depresi.

masalh stres


Stres bisa disebabkan oleh beberpa faktor, sperti keinginan yang bertentangan, peristiwa traumatis, peristiwa yang tidak bisa dikendalikan, peristiwa yang tidak bisa diprakirakan, peristiwa di luar batas kemampuan, dan konflik internal sering sebagai sumber stres seseorang. Atkinson, dkk. (1998) menyatakan bahwa sumber stres yang paling jelas adalah peristiwa traumatis, seperti situasi bahaya ekstreem yang berada di luar kemampuan manusia, misalnya; bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir; bencana buatan manusia; seperti perang; dan kecelakaan nuklir; kecelakaan yang mengerikan, seperti tabrakan mobil atau pesawat terbang; penyerangan fisik, seperti pemerkosaan, atau upaya pembunuhan.

Konseli yang mengalami stres ringan dan sedang masih bisa dibantu konselor dengan konseling, tetapi bila stres yang dideritanya kategori berat, maka kosnelor harus merujuk (mereferal) kepada psikiater. Kasus stres berat membutuhkan penanganan medis dan layanan psikoterapi.

Pengertian Konseling

Pengertian Konseling - Shertzer dan stone, setelah menyitir delapan definisi konseling secara kronologis, sampai menemukan beberapa perbedaan sangat jelas di antara definisi-definisi, yang disadur, sebagai berikut:

Pengertian Konseling

  1. Definsi yang mula-mula, awal, memberi penekanan pda hal ikhwal kognitif (melakukan penafsiran fakta-fakta) sedangkan definisi trbaru menekankan pengalaman afektif (memberi makna pribadi bagi tingkah laku) di samping dimensi-dimensi kognitif.
  2. Definisi-definisi awal memperkenalkan konseling sebagai hubungan "empat mata" (Satupersatu) sedangkan definisi mutakhir lazim mengacu pada adanya lebih dari dua konseling.
  3. semua definisi menegaskan bahwa konseling adalah suatu proses. Proses (sejumlah fenomena yang menunjukkan perubahan terus menerus sepanjang waktu) menegaskan bahwa konseling bukanlah suatu kejadian tuggal melainkan melibatkan tindakan-tindakan beruntun dan berlangsung maju-berkelanjutan ke arah suatu tujuan.
  4. Definisi-definisi umumnya menetapkan bahwa konseling adalah suatu saling hubungan dan bahwa hubungan itu ditandai oleh kehangatan, suasana pembolehan (permissiveness), pemahaman, penerimaan, dan sebagainya.
  5. Beberapa definisi melukiskan pula para partisipan: konselor sebagai seorang profesional atau sebagai lebih "dewasa" atau sebagai lebih matang atau memiliki pengetahuan khusus; klien sebagai bermsalah, mengalami kecemasan, merasa terganggu, atau mengalami frustasi.
  6. Sebagian besar definisi menunjukkan bahwa pengaruh, hasil, konseling adalah peningkatan atau perubahan tingkah laku.

Pengertian Konseling Behavioristik

Istilah konseling behavioristik berasal dari istilah bahasa inggris Behavioral Counseling, yang untuk pertama kali digunakan oleh John D. Krumboltz  (1964), untuk menggarisbawahi bahwa konseling diharapkan menghasilkan perubahan yang nyata dalam perilaku konseling (Counselee behavior), Krumboltz  adalah promator utama dalam  menerapkan pendekatan behavioristik terhadap konseling, meskipun dia melanjutkan suatu aliran yang sudah dimulai sejak tahun 1950, sebagai reaksi terhadap corak konseling yang memandang hubungan antarpribadi (personal relationship), antara konselo dan konseling sebagai komponen yang mutlak diperlakukan dan sekaligus cukup untuk memberikan bantuan psikologis kepada seseorang. Aliran baru ini memerlukan bahwa hubungan antara pribadi itu tidak dapat diteliti secara ilmiah, sedangkan perubahan nyata dalam perilaku konseling memungkinkan dilakukan penelitian ilmiah. Tokoh-tokoh seperti Dollard dan Miller (1950), Wolpe (1958), Lazarus (1958), dan Eysenck (1952) meletakkan dasar aliran baru ini, yang akhirnya dipromosikan sebagai pendekatan baru terhadap konseling dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh tokoh-tokoh seperti Thoresen (1966), Bandura (1969), Goldstein (1966), Lazarus (1966), Yates (1970) serta Dustin dan George (1977). Dalam bukunya Counseling Methods (1976) Krumboltz dan Thoresen sudah tidak menggunakan istilah Behavioral Counseling karena mereka menganggap kesadaran akan perlunya perubahan dalam perilaku konseling sudah tertanam dalam kalangan para ahli psikoterapi dan konseling.

Tokoh Behaviorisme


Teori Behavior berkembang dari laboratorium yang terjadi pada tahun 1920-an dan 1930-an, sebagai reaksi ketidakmampuan para ahli untuk mengukur dan mengevaluasi hasil dari pendekatan psikonalisis dalam memberi terapi. Behavior therapy lebih menempatkan perubahan psikologis dan intervensi dalam konteks pendidikan atau belajar daripada obat (medicine), menekankan kebutuhan untuk prediksi, mengukur hasil berdasarkan atas keadaan yang dapat diobservasi, serta objektif dan variabel-variabel yang dapat diukur.

Teori Behavior dapat dibedakan menjadi dua pendekatan dasar, yaitu behavirism (dari Watson, Skinner, dan yang lain) dan pendekatan cognitive-behavioral. Behavior adalah sesuatu yang dipelajari dari situasi dan lingkungan, bukan dari dalam diri organisme. Karena semua perilaku dipelajari maka perilaku juga dapat tidak dipelajari. Karena organisme tidak mempunyai kontrol terhadap perilaku dari dalam maka tidak ada self-determination dan manusia dapat dimanipulasi. Values, Feeling, dan berfikir pun dilupakan (ignored), hanya perilaku yang nyata dapat diobservasi. Behaviorism tidak melihat pada faktor internal. Walaupun pendekatan behavioral berbeda-beda, 

Ada beberapa hal yang dapat dikemukakan sebagai keadaan yang umum :
a.       Lebih menekankan pengaruh pada waktu sekarang daripada penentu historis mengenai perilaku
b.      Menekankan pada observasi perubahan perilaku yang tampak sebagai kriteria evaluasi dari treatment.
c.       Menetukan tujuan treatment secara kongkrit, objektif, dan terapi reflikasi.
d.      Mengembangkan basic research sebagai sumber hipotesis tentang treatment dan teknik terapi.
e.       Tentukan masalah dalam terapi secara spesifik maka treatment dan poengukuran dapat dilaksanakan.

Perubahan dalam perilaku itu harus diusahakan melalui suatu proses belajar (learning) atau belajar kembali (relearning), yang berlangsung selama proses konselin. Oleh karena itu proses konselin dipandang sebagai suatu proses pendidikan (an educational process), yang terpusat pada usaha membantu dan kesediaan dibantu untuk belajar perilaku baru dan dengan demikian mengatasi berbagai macam permasalahan. Perhatian difokuskan pada perilaku-perilaku tertentu untuk dapat diamati (observable), yang selama proses konselin melalui prosedur-prosedur dan tehnik-tehnik tertentu akhirnya menghassilkan perubahan yang nyata,yang juga dapat disaksikan dengan jelas. Usaha-usaha untuk mendatangkan perubahan dalam tingkah laku (Behavior change) didasarkan pada teori belajar yang dikenal dengan nama Behaviorisme dan sudah dikembangkan sebelum lahir aliran pendekatan Behavioristik dalam konselin mengenal banyak variasi dalam prosedur, metode, dan tehnik yang diterapkan. Meskipun demikian, pelopor-pelopor pendekatan Behaviouristik pada dasrnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupaka suatu hasil proses belajar dan, karena itu, dapat diubah dengan belajar baru. Dengan demikian, proses konseling pada dasranya pun dipandang sebagai suatu proses belajar.

Layanan Instrumen Bimbingan dan Konseling

       Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan instrumental bimbingan dan konseling. Antara lain adalah :

a.       Instrumen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan. Pemilihan  instrumen yang akan dipergunakan didasarkan atas ketepatan kegunaan dan  tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini Anastasi (1992) mengingatkan  bahwa keefektifan penggunaan instrumen dalam konseling tergantung pada  ketepatan pilihan instrumen yang akan dipakai berkenaan dengan individu (yang akan mengikuti tes) dan permasalahan yang sedang ditangani.  Konselor dituntut memiliki wawasan yang memadai tentang kegunaan berbagai instrumen dalam kaitannya dengan karakteristik individu dan berbagai permasalahan.

Bimbingan konseling


b.      Pemakai instrumen (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrumen yang akan dipakai (misalnya tee), monitoring pengadministrasiannya dan skoring, penginterpretasian skor dan penggunaannya sebagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan tertentu (Anastasi, 1992). Adakalanya pemakai instrumen tidak mampu mengambil seluruh tanggung jawab tersebut; maka ia memerlukan penyelia ataupun konsultan. Dalam hal ini diingatkan oleh Anastasia bahwa instrumen hanyalah alat; baik-buruknya instrumen itu sebagai alat tergantung pada pemakaiannya.

c.       Pemakaian instrumen, misalnya, harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang akan mengambil tes itu. klien hendaknya memahami tujuan dan kegunaan tes itu dan bagaimana kemungkinan hasilnya. Bagi klien-klien yang secara khusus meminta tes, perlu diungkapkan mengapa ia merasa perlu di tes. Lebih jauh, klien itu juga dipersiapkan untuk menerima hasil tes sebagaimana adanya. Apabila hasil ternyata baik, bagaimana reaksi klien dan apa yang akan dilakukannya? Sebaliknya, apabila hasilnya ternyata tidak sebaik yang diharapkan, bagaimana pula reaksinya? Konselor perlu memperoleh kejelasan tentang alasan klien, dan apakah alasan yang dikemukakan itu dapat diterima. Konselor juga perlu membimbing klien agar nantinya dapat menerima hasil tes secara positif dan dinamis. Kalau hasilnya baik klien tidak menjadi sombong atau besar kepala, dan apabila hasilnya jelas tidak menjadi kecewa atau putus asa. Hasil apa pun yang dicapai hendaknya diterima sebagaimana adanya, dan menjadi pendorong bagi klien untuk berbuat dan berusaha lebih baik lagi untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.

d.      Perlu diingat bahwa tes atau instrumen apa pun hanya merupakan salah satu sumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam. Oleh karena itu pemahaman terhadap klien hendaknya tidak hanya didasarkan atas  data tunggal, yang dihasilkan oleh tes semata-mata, melainkan harus dilengkapi dengan data lain dari sumber-sumber yang relevan sehingga gambaran tentang klien lebih bersifat komprehensif dan bermakna. Dalam kaitan ini, Mortensen & Schmuller (1976) mengingatkan bahwa kesalahankesalahan yang sering dilakukan oleh para petugas bimbingan dan konseling dimasa lampau adalah memaksakan pemahaman tingkah laku individu hanya berdasarkan pada hasil tes tunggal semata-mata, tanpa memahami secara menyeluruh keadaan individu itu dalam batas-batas perkembangan individualnya.

e.        Ada dan dipergunakannya berbagai instrumen lainnya bukanlah syarat mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling. Tes dan berbagai instrumen itu sekedar alat bantu. Seperti telah dikemukakan di atas pemahaman tentang klien dan permasalahannya dapat dilaksanakan melalui wawancara dan dialog mendalam. Oleh karena itu, kekurangan ataupun ketiadaan instrumen hendaknya tidak merupakan penghambat bagi pelaksanaan bimbingan dan konseling (lihat kembali “kesalahpahaman tentang instrumentasi BK” pada Bab III). 

Perkembangan Kepribadian


Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap. Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun, meliputi beberapa tahap yaitu tahap oral, tahap anal, tahap halik, tahap laten, dan tahap genital.

ilustrasi perkembangan kepribadian


Freud yakin “Anak adalah ayah manusia” adalah menarik menentukan preferensi kuat pada penjelasan genetik atas tingkah laku orang dewasa semacam itu, Sementara Freud sendiri jarang menyelidiki anak-anak kecil secara langsung. Ia lebih suka melakukan menyelidiki struksi tent ang kehidupan masa silam seseorang berdasarkan evidensi yang terdapat dalam ingatan-kenangannya di masa dewasa.
Kepribadian berkembang sebagai respon terhadap empat sumber tegangan pokok, yaitu (a) proses pertumbuhan fisiologis, (b) frustasi-frustasi, (c) konflik-konflik, dan (d) ancaman-ancaman. Sebagai akibat langsung dari meningkatnya ketegangan yang ditimbulkan oleh sumber-sumber ini, sang pribadi  terpaksa mempelajari cara-cara baru mereduksikan tegangan. Proses belajar inilah yang dimaksudkan dengan perkembangn kepribadian.
Identifikasi dan pemindahan (displacement) adalah dua cara yang digunakan individu untuk belajar mengatasi frustrasi-frustrasi, konflik-konflik, dan kecemasan-kecemasan.
Identifikasi dapat didefinisikan sebagai metode yang digunakan orang untuk mengambil alih ciri-ciri orang lain dan menjadikanya bagian yang tak terpisahkan dari kribadiannya sendiri. Freud lebih suka memakai istilah identifikasi daripada imitasi karena ia berpendapat bahwa imitasi mengandung arti sejenis peniruan tingkah laku yang bersifat dangkal dan sementara padahal ia menginginkan suatu kata yang mengandung pengertian tentang sejenis pemerolehan (acquisition) yang kurang lebih bersifat permanen kepada kepribadian.
Identifikasi juga merupakan cara dengan mana orang dapat memperoleh kembali suatu objek yang telah hilang. Dengan mengidentifikasikan diri dengan orang terkasih yang telah meninggal atau terpisah, maka orang yang telah hilang itu dijelamakan kembali dalam bentuk ciri tertentu yang meresap atau melekat pada kepribadian seseorang. Identifikasi  semacam ini merupakan dasar pembentukan superego.
Struktur final kepribadian merupakan akumulasi berbagai identifikasi yang dilakukan pada berbagai masa kehidupan seseorang, kendati ibu dan ayah mungkin merupakan tokoh-tokoh identifikasi terpenting dalam kehidupan seseorang.
Pemindahan objek asli yang dipilih instink tidak dapat dicapai karena adanya rintangan baik dari luar maupun dari dalam (anti-kateksis), maka suatu represi yang kuat. Apabila kateksis yang baru itu juga terhalang, maka akan terjadi pemindahan lain, demikian seterusnya sampai ditemukan objek yang mampu untuk mereduksikan tegangan habis, dan segera dicari lagi suatu objek tujuan yang cocok. Sepanjang rangkaian pemindahan yang banyak dan yang merupakan perkembangan kepribadian, sumber dan tujuan instink tetap, hanya objeknya yang berubah-ubah.
Minat-minat, keterikatan-keterikatan dan semua bentuk lain motif-motif yang diperoleh tetap bertahan karena gagal memberikan kepuasan yang sempurna. Setiap kompromi sekaligus adalah penolakan. Seseorang melepaskan sesuatu yang sesungguhnya diinginkannya tetapi tidak dapat dimilikinya, dan menerima sesuatu yang kedua atau ketiga terbaik yang dapat dimilikinya (Hall, 1954). Freud mengemukakan bahwa perkembangan peradaban di mungkinkan oleh pengekangan terhadap pemilihan-pemilihan objek primitive serta pengalihan energy instink ke saluran-saluran yang dapat diterima oleh masyarakat dan secara cultural kreatif. Suatu pemindahan yang menghasilkan prestasi kebudayaan yang lebih tinggi disebut sublimasi.
Arah yang ditempuh pemindahan ditentukan oleh dua faktor. Faktor-faktor ini adalah (a) kemiripan objek pengganti dengan objek aslinya, dan (b) sanksi-sanksi dan larangan-laranganyang diterapkan masyarakat.
  1. Tahapan-tahapan Perkembangan
Anak melewati serangkaian tahap yang secara dinamis berlainan selama lima tahun pertama kehidupan, kemudian suatu periode lima atau eman tahun berikutnya periode-laten-dinamika tersebut kurang lebih menjadi stabil. Dengan datangnya masa adolesen, dimanika itu muncul lagi kemudian secara bertahap menjadi tenang ketika remaja memasuki dewasa. Bagi Freud tahun-tahun pertama kehidupan yang hanya beberapa itu memiliki peranan yang menentukan bagi pembentukan kepribadian. Masing-masing tahap perkembangan selama lima tahun pertama ditentikan oleh cara-cara reaksi suatu zona tubuh tertentu.
a. Tahap Oral
Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah makan. Dua macam aktivitas oral  ini, yaitu menelan makanan dan mengigit, merupakan prototipe bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Karena tahap oral ini berlangsung pada saat bayi sama sekali tergantung pada ibunya untuk memdapatkan makanan, pada saat dibuai, dirawat dan dilindungi dari perasaan yan   g tidak menyenangkan, maka timbul perasaan-perasaan tergantung pada masa ini. Frued berpendapat bahwa simtom ketergantungan yang paling ekstrem adalah keinginan kembali ke dalam rahim.

b. Tahap Anal
Setelah makanan dicernakan, maka sisa makanan menumpuk di ujung bawah dari usus dan secara reflex akan dilepaskan keluar apabila tekanan pada otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu. Pada umur dua tahun anak mendapatkan pengalaman pertama yang menentukan tentang pengaturan atas suatu impuls instingtual oleh pihak luar. Pembiasaan akan kebersihan ini dapat mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap pembentukan sifat-sifat dan nilai-nilai khusus.  Sifat-sifat kepribadian lain yang tak terbilang jumlahnya konon sumber akarnya terbentuk dalam tahap anal.
c. Tahap Phalik
Selama tahap perkembangan kepribadian ini yang menjadi pusat dinamika adalah perasaan-perasaan seksual dan agresif berkaitan dengan mulai berfungsinya organ-organ genetikal. Kenikmatan masturbasi serta kehidupan fantasi anak yang menyertai aktivitas auto-erotik membuka jalan bagi timbulnya kompleks Oedipus.  Freud memandang keberhasilan mengidentifikasikan kompleks Oedipus sebagai salah satu temuan besarnya.
Freud mengasumsikan bahwa setiap orang secara inheren adalah biseksual, setiap jenis tertarik pada anggota sejenis maupun pada anggota lawan jenis. Asumsi tentang biseksualitas ini disokong oleh penelitian terhadap kelenjar-kelenjar endokrin yang secara agak konklusif menunjukkan bahwa baik hormon seks perempuan terdapat pada masing-masing jenis. Timbul dan berkembangnya kompleks Oedipus dan kompleks kastrasi merupakan peristiwa-peristiwa pokok selama masa phalik dan meninggalkan serangkaian bekas dalam kepribadian.
d. Tahap Latensi
Masa ini adlah periode tertahannya dorongan-dorongan seks agresif. Selama masa ini anak mengembangkan kemampuannya bersublimasi ( seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah, bermain olah raga, dan kegiatan lainya). Tahapan latensi ini antara usia 6-12 tahun (masa sekolah dasar)
e. Tahap Genital
Kateksis-kateksis dari masa-masa pragenital bersifat narsisistik. Hal ini berarti bahwa individu mendapatkan kepuasan dari stimulasi dan manipulasi tubuhnya sendiri sedangkan orang-orang lain dikateksis hanya karena membantu memberikan bentuk-bentuk tambahan kenikmatan tubuh bagi anak. Selama masa adolesen, sebagian dari cinta diri atau narsisisme ini disalurkan ke pilihan-pilihan objek yang sebenarnya.
Kateksis-kateksis pada tahap-tahap oral, anal, dan phalik lebur dan di sistensiskan dengan impuls-impuls genital. Fungsi biologis pokok dari tahap genital tujuan ini dengan memberikan stabilitas dan keamanan sampai batas tertentu.
Back To Top