Folklor: Sajak dan Puisi Rakyat

Folklor: Sajak dan Puisi Rakyat - Kekhususan jenis folklor lisan ini adalah bahwa kalimatnya tidak berbentuk bebas (free phrase), tetapi berbentuk terikat (fix phrase). Sajak atau puisi rakyat sudah tertentu bentuknya, biasanya terdiri atas beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya berdasarkan irama.

Puisi rakyat dapat berbentuk macam-macam, antara lain dapat berbentuk ungkapan tradisional (peribahasa), pertanyaan tradisional (teka-teki), cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat yang berupa mantra-mantra.

Berbalas pantun termasuk puisi yang lebih menggunakan keterampilan suara. Pada kesenian ini, dua kelompok anak muda saling berbalas meng utarakan pantun. Pantun-pantun yang dikembangkan adalah pantun-pantun lama dengan berbagai jenis, seperti pantun nasihat, pantun teka-teki, atau pantun berkasihkasihan.

Contoh Pantun


Pantun ini biasanya dibawakan/ditampilkan dalam upacara-upacara perkawinan.

a. Contoh pantun nasihat:

Asam kadis asam gelugur, 
kedua asam siang riang. 
Menangis mayat di dalam kubur, 
mengingat diri tidak sembahyang.

b. Contoh pantun berkasih-kasihan:

Beli kacang kupas kulitnya, 
kacang dikupas dicampur kurma. 
Kalau boleh abang bertanya, 
nona manis hendak kemana.

c. Contoh pantun jenaka:

Putih-putih bunga melati 
merah-merah buah delima 
Bagaimana hati tak geli 
melihat gajah bermain mata.

Suku-suku bangsa di Indonesia memiliki banyak sekali puisi rakyat, yang masih belum dikumpulkan apalagi diterbitkan. Suku bangsa Jawa, misalnya, memiliki puisi rakyat yang harus dinyanyikan atau ditembangkan. Puisi rakyat ini dapat dibedakan ke dalam kelompok sinom, kinanti, pangkur, dan durma. Pada suku bangsa Sunda ada semacam puisi rakyat yang berfungsi sebagai sindiran, yang dalam bahasa daerahnya disebut sisindiran. Orang Sunda memilah sisindiran menjadi dua kategori. yakni paparikan dan wawangsalan; dan selanjutnya paparikan dapat dibagi lagi menjadi rarakitan dan sesebud.

Paparikan Sunda menurut bentuknya dapat dibandingkan dengan paparikan Jawa dan pantun Melayu. Orang Sunda menyebut dua baris pertama paparikan sebagai cangkang atau kulit dan dua baris terakhir sebagai eusina atau isi. Hubungan antara cangkang dan isi adalah dalam persamaan sajaknya.

Contoh wawangsalan adalah sebagai berikut: Walanda hideung soldadu (Belanda hitam yang menjadi serdadu), um ambon engkang ka euis (kakanda jatuh cinta padamu), kalong cilik saba gedang (kalong kecil terbang ke papaya), cumedod rasaning ati (tersentuh rasanya hati), belut sisit saba darat (seekor belut naik ke darat), kapiraray siang wengi (wajahnya selalu berada dalam pikirannya siang malam).

Istilah bahasa Bali untuk puisi rakyat adalah geguritan. Bentuk folklor lisan lainnya, yang juga termasuk dalam kategori geguritan, adalah cerita puisi rakyat. Tema geguritan kebanyakan adalah percintaan.

Selain itu, terdapat bentuk folklor berupa sajak rakyat untuk kanak-kanak (nursery rhyme), sajak permainan (play rhyme), dan sajak untuk menentukan siapa yang "jadi" dalam satu permainan atau tuduhan (counting out rhyme).

Contoh sajak kanak-kanak orang Betawi yang paling terkenal adalah pok ame-ame. Sajak kanak-kanak untuk membuat anak bayi ceria. Biasanya si bayi akan tertawa tergelak-gelak, karena sekali sajak ini diucapkan, si anak segera diciumi serta digelitik seluruh tubuhnya.

Contoh sajak untuk menentukan siapa yang "jadi" dalam suatu permainan atau tuduhan (counting out rhyme) dari Betawi: "Hom pimpa halai hum gambreng". Sajak yang tidak mempunyai arti ini diucapkan bersama oleh lebih dari dua anak, sebelum dimulainya suatu permainan. Maksudnya adalah untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan memegang peran sebagai "yang jadi" dalam permainan yang akan mereka lakukan. Setelah pemainnya tinggal dua anak, sajaknya diganti dengan sajak yang berbunyi: "Hom pim sut".

Untuk bermain dengan sajak "Hom pim sut" ini, para peserta tidak lagi membentangkan seluruh jari tangan mereka tetapi hanya satu jari saja. Ibu jari melambangkan gajah, jari telunjuk melambangkan manusia, dan jari kelingking melambangkan semut. Semut menang terhadap gajah karena jika semut masuk ke dalam telinga gajah, gajah tidak berdaya. Demikian dalam permainan ini anak yang menunjukkan ibu jarinya akan menjadi "yang jadi" apabila lawannya mengeluarkan kelingkingnya.
Written by: Budianto
Biologi Online, Updated at: 4/24/2016

Ditulis Oleh : Budianto SPd ~ Budhii Weblog

Budianto Anda sedang membaca artikel berjudul Folklor: Sajak dan Puisi Rakyat yang ditulis oleh Budhii WeBlog yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Budhii WeBlog

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top